
Acara Napak Tulis digelar oleh Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (PAEI ) Komda Jawa Tengah pada hari Minggu tanggal 9 Juni 2024, mendapat sambutan dari banyak pihak. Kegiatan yang diikuti oleh anggota PAEI, sejumlah komunitas Sejarah, mahasiswa dan masyarakat umum peminat sejarah di Kota Semarang dan sekitarnya. Sebagai narasumber dalam kegiatan ini adalah anggota PAEI Komda Jawa Tengah yaitu Philipus Dellian Agus Raharjo (Pippo Agosto).
Kegiatan Napak Tulis yang berlokasi di Mausoleum Thio Sing Liong terletak di sisi selatan Jl. Sriwijaya, di daerah Tegalwareng, Semarang. Posisinya lebih tinggi daripada jalan raya. Pada awalnya lokasi ini memang merupakan sebuah kompleks pemakaman Tionghoa seluas ±5 hektar, melingkupi area Tegalwareng hingga kuburan besar Bangkong. Di Tegalwareng ini Thio Sing Liong membeli sebidang tanah untuk dijadikan area pemakaman keluarga. Setelah istri pertama – Tan Tien Nio – meninggal dunia karena kecelakaan delman, Thio Sing Liong memperluas area pemakaman dengan membeli tanah orang lain seluas 72m2 di tempat tersebut.
Sesuai dengan namanya, maka mausoleum ini dibangun bagi Thio Sing Liong. Secara singkat, Thio Sing Liong adalah putra Thio Koen Loen, cucu Thio Tjoe Pian. Kakek Thio Sing Liong pada masanya adalah seorang officer der Chinezen dengan jabatan kapitan titular. Thio Sing Liong dilahirkan di Semarang pada 25 Juni 1871. Walau demikian pada batu nisan (bongpay) yang dipahatkan adalah daerah asal leluhurnya di Tiongkok.
Nama Thio Sing Liong mulai dikenal sebagai seorang pengusaha andal setelah pada awal abad XX mendirikan firma N.V. Thio Sing Liong, yang kantor pusatnya di Jl. Kepodang, Kota Lama Semarang. Sebelum mendirikan perusahaannya sendiri, Thio Sing Liong telah mewarisi perusahaan ayahnya, yaitu N.V. Thio Tjioe Pian, yang pada
awalnya bergerak di bidang usaha palawija. Dalam perkembangannya perusahaan tersebut berubah menjadi perusahaan kontraktor dan jasa persewaan properti. N.V. adalah akronim dari Naamloze Vennootschap, sekarang umum disebut Perseroan Terbatas (P.T.).
Sekilas Thio Thiam Tjong
Thio Thiam Tjong yang lahir pada 4 April 1896 pada masa kolonial dikenal sebagai politisi, pemimpin komunitas, dan pengusaha. Tahun 1927/1928 beliau mengorganisasikan Kongres Pemuda Tionghoa di Surakarta. Thio Thiam Tjong adalah salah satu pendiri Chung Hwa Hui (中華會) salah satu partai Tionghoa Indonesia. Di kalangan pengusaha, Thio Thiam Tjong dikenal sebagai ketua Siang Hwee (Kamar Dagang Tionghoa) di Semarang. Sebelum Jepang mengambil alih kekuasaan Belanda di Hindia Belanda, beliau aktif dalam gerakan anti-Jepang dan menjadi ketua badan Jiuguo Haoyuan Hui. Oleh karena itu ketika Jepang menguasai Hindia Belanda, beliau dimasukkan ke dalam kamp interniran bersama tokoh-tokoh Tionghoa anti-Jepang lainnya di Cimahi.
Tahun 1946 dia ditunjuk menjadi penasihat pada Kabinet Darurat NICA yang dipimpin oleh temannya, yaitu H. van Mook. Kendati terlibat dalam usaha pembentukan Republik Indonesia Serikat, Thio Thiam Tjong berseberangan pandangan dengan van Mook karena tidak berusaha mengritik Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dipimpin Soekarno-Hatta.
Tahun 1948 Thio Thiam Tjong menjadi pemimpin komunitas Persatoean Tionghoa yakni komunitas dan organisasi politik Tionghoa Indonesia. Organisasi ini dibentuk menjelang berakhirnya Revolusi Indonesia. Setelah Belanda mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia, organisasi ini diubah menjadi Partai Demokrat Tionghoa Indonesia.
Kemudian dia mengundurkan diri dari perpolitikan dan menekuni dunia pendidikan. Bersama beberapa tokoh Tionghoa Indonesia pada tahun 1957 beliau membentuk komite untuk mendirikan Universitas Tarumanegara di Jakarta. Pada 22 September 1969 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Belanda. Dari dua kali perkawinan, beliau tidak memiliki keturunan.
Mausoleum Thio Sing Liong merupakan kompleks pemakaman keluarga yang menarik karena terdapat kuburan bergaya tradisional dan bergaya Barat sekaligus dalam satu lokasi. Ditinjau dari aksara yang dipakai pun menarik karena penulisan tarikh menggunakan tiga sistem kalender yakni Konfusian, imlek, dan masehi. Angka-angka yang digunakan dalam penulisan tarikh menggunakan dua sistem yaitu angka Cina biasa dan angka Suchow atau Sūzhōu mǎzi (蘇州碼子).
Sama seperti pada bongpay atau batu nisan Tionghoa pada umumnya, dengan membaca isi bongpay dapat diketahui selain nama dan jenis kelamin mendiang, bisa diketahui pula kapan dibuat atau didirikan, pangkat atau jabatan, keturunan yang mendirikan bong dan bongpay, serta daerah asal leluhur mendiang di Tiongkok.
Di samping informasi yang terdapat pada bongpay, beberapa kuburan Tionghoa dari kalangan menengah ke atas biasa dihiasi dengan kuplet-kuplet yang dikutip dari kesusastraan Tiongkok, atau bisa pula berupa semboyan yang menjiwai mendiang semasa hidupnya.
