
Di Temanggung, tepatnya di Sasana Budaya Bumiphala, sebuah pameran menarik bertajuk Aksara Gata sukses digelar pada tanggal 20–26 Agustus 2025. Acara ini terselenggara berkat kerja sama apik antara panitia dengan bidang Kebudayaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung. Sejak hari pertama, suasana pameran terasa hidup dengan kehadiran berbagai tokoh penting, termasuk Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat yang secara resmi membuka acara. Hadir pula Ketua Umum PAEI, perwakilan dari PAEI komda Jawa Tengah, DIY, dan Bali-Nusa Tenggara-Sulawesi.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas menyampaikan harapan besar agar pameran ini tidak berhenti pada kegiatan tahunan semata, tetapi juga menjadi langkah awal menuju lahirnya sebuah museum budaya di Kabupaten Temanggung. Museum tersebut diharapkan dapat menjadi rumah bagi berbagai koleksi benda budaya, sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.

Selain pameran, ada pula kegiatan sarasehan kecil yang cukup menarik perhatian. Sarasehan ini menghadirkan komunitas literasi lokal dan berlangsung dua kali selama acara. Banyak pengunjung yang awalnya hanya sekadar datang untuk melihat pameran, akhirnya ikut duduk dan larut dalam obrolan ringan penuh pengetahuan. Momen itu membuat suasana terasa akrab, seolah semua pengunjung memiliki minat yang sama: mencintai aksara dan budaya Nusantara.

Meski sempat ada rasa khawatir karena lokasi pameran yang agak jauh dari pusat kota, ternyata hal itu tidak mengurangi antusiasme pengunjung. Justru, minat masyarakat—terutama kalangan pelajar sekolah menengah—sangat tinggi. Tanpa adanya dorongan resmi dari Dinas Pendidikan, banyak sekolah dengan sukarela datang berkunjung, menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap perkembangan aksara di Indonesia. Hingga hari terakhir, tercatat lebih dari 950 orang hadir dan menuliskan nama mereka di daftar kunjungan. Jumlah ini menjadi bukti nyata bahwa minat terhadap budaya lokal masih kuat di hati masyarakat.
Salah satu hal yang paling disukai pengunjung adalah kesempatan untuk menulis nama mereka menggunakan aksara Jawa di bentangan kain khusus yang disediakan. Antusiasme begitu tinggi hingga kain yang tersedia harus beberapa kali diganti karena penuh dengan coretan cat dari pengunjung. Aktivitas sederhana itu ternyata memberi pengalaman baru dan meninggalkan kesan mendalam bagi banyak pengunjung.

Dari keseluruhan acara, terlihat jelas bahwa pameran Aksara Gata bukan sekadar ajang pamer benda budaya, tetapi juga ruang interaksi, pembelajaran, dan inspirasi. Banyak pengunjung menyampaikan harapan agar kegiatan serupa bisa diadakan lagi dengan tema berbeda, sehingga masyarakat dapat terus memperkaya wawasan budaya mereka. Semangat inilah yang membuat pameran ini terasa istimewa, dan semoga menjadi titik awal berkembangnya ruang budaya yang lebih luas di Temanggung.
