
Suasana budaya di Kota Magelang terasa berbeda pada pertengahan Juli 2025. Pasalnya, PAEI Komda Jawa Tengah kembali menghadirkan acara budaya yang menarik perhatian publik, yaitu Pameran Aksara Gata. Gelaran ini berlangsung di Loka Budaya “SUKIMIN ADIWIRATMOKO”, tepatnya di Jalan Alun-Alun Selatan nomor 9. Acara yang digelar selama sepekan, mulai 18 hingga 24 Juli 2025, sukses menjadi ajang pertemuan berbagai kalangan yang peduli terhadap pelestarian warisan aksara Nusantara.
Kerja sama erat dengan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang menjadi salah satu faktor utama keberhasilan penyelenggaraan pameran ini. Dukungan penuh yang diberikan selaras dengan tugas pokok dan fungsi Bidang Kebudayaan, khususnya dalam hal Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Dari 10 objek yang tercakup dalam OPK, manuskrip atau naskah kuno mendapat perhatian istimewa, dan inilah yang menjadi fokus utama dari pameran Aksara Gata.
Acara pembukaan berlangsung sederhana tetapi penuh makna. Setelah doa lintas agama dipanjatkan sebagai simbol persatuan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang secara simbolis mengetuk lalu membuka pintu gedung pameran. Tindakan itu menjadi tanda resmi dimulainya pameran. Lebih dari sekadar formalitas, prosesi ini mengandung makna mendalam: membuka kembali ruang pengetahuan dan kebudayaan yang diwariskan leluhur melalui aksara. Pada malam hari setelah pembukaan, suasana semakin hidup dengan adanya sarasehan budaya. Diskusi hangat ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang. Ada Dr. Siti Maziah, dosen sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang; Syafi’i, S.S., S.Kar, staf dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang; serta Candra Bawana, budayawan pemerhati aksara Kawi di Magelang. Melalui obrolan yang santai namun penuh wawasan, para peserta sarasehan diajak memahami perjalanan panjang aksara kuno di Jawa, termasuk tantangan dalam melestarikannya di tengah arus modernisasi.

Selama tujuh hari pameran, pengunjung dapat melihat langsung koleksi menarik yang ditampilkan. Tidak hanya dari arsip PAEI, tetapi juga koleksi berharga dari Museum Ranggawarsito, bahkan ada pula koleksi pribadi yang dipinjamkan oleh salah satu anggota komunitas budaya Magelang. Berbagai koleksi tersebut memperkaya wawasan pengunjung, sekaligus menunjukkan betapa luas dan beragamnya warisan tulisan kuno yang dimiliki bangsa ini.
Yang membuat pameran semakin menarik adalah partisipasi beragam kalangan. Siswa sekolah tampak antusias datang setelah pulang belajar, tanpa ada paksaan dari pihak sekolah. Kehadiran mereka menandakan bahwa generasi muda mulai penasaran dengan warisan nenek moyang. Selain itu, acara juga ramai dihadiri komunitas pecinta budaya serta masyarakat umum. Hal ini menjadikan pameran bukan sekadar ruang pajang benda kuno, tetapi juga tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat untuk berbagi minat dan kepedulian terhadap budaya.
Tak hanya melihat koleksi, pengunjung juga diberi kesempatan untuk belajar langsung membaca dan menulis aksara Kawi serta Pegon. Sesi praktik ini dipandu oleh narasumber dari PAEI, komunitas Taksaka, dan staf Bidang Kebudayaan setempat. Dengan cara ini, pengunjung tak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut merasakan pengalaman mempraktikkan aksara kuno yang selama ini hanya dikenal lewat buku atau cerita.
Secara keseluruhan, Pameran Aksara Gata di Magelang tahun 2025 ini bukan sekadar acara budaya biasa. Ia menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa aksara adalah identitas, pengetahuan, dan warisan yang harus terus dijaga. Melalui kolaborasi berbagai pihak, acara ini berhasil menghadirkan semangat baru dalam melestarikan manuskrip kuno agar tidak hilang ditelan zaman.

