Epigrafi dalam Menguatkan Identitas Daerah


Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) Komisariat Daerah Sumatera dan Kalimantan mengadakan program “PAEI INSIDER” sebagai bagian dari Dana Indonesiana. Program ini bertujuan memperkenalkan ilmu epigrafi kepada mahasiswa, khususnya mereka yang tengah menempuh semester 6 di Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu. Epigrafi memiliki peranan penting dalam merekonstruksi sejarah lokal, karena prasasti sebagai sumber sejarah primer dapat memberikan informasi langsung dari masa lalu tanpa distorsi atau interpretasi berlebihan. Dengan demikian, ilmu epigrafi berkontribusi dalam memastikan keakuratan sejarah dibandingkan dengan tradisi lisan atau catatan tertulis yang dibuat setelah peristiwa terjadi. Oleh sebab itu, PAEI INSIDER yang diselenggarakan pada 21 Maret 2025 mengangkat tema “Epigrafi dalam Menguatkan Identitas Daerah.”

Acara ini menghadirkan dua narasumber yang memberikan wawasan sesuai dengan tema yang diusung. Narasumber pertama, Gaya Mentari, M. Hum, seorang arkeolog, membahas hubungan erat antara epigrafi dan arkeologi dalam upaya rekonstruksi sejarah lokal. Ia memberikan contoh konkret dari beberapa prasasti yang memuat data berharga guna mendukung historiografi Indonesia. Salah satu yang dibahas adalah piyagem logam dari Muara Saung, Kabupaten Kaur, Bengkulu. Piyagem Sindang Hulu Panang ini mengungkapkan luasnya wilayah Kesultanan Palembang hingga bagian selatan Bengkulu serta mencantumkan istilah birokrasi dan perekonomian setempat. Selain prasasti, penemuan senjata kuno di daerah yang sama semakin menegaskan eksistensi kekuasaan Kesultanan Palembang di wilayah tersebut. Dalam paparannya, Gaya Mentari mendorong mahasiswa untuk lebih peduli terhadap benda-benda kuno dan tulisan bersejarah yang mereka temui agar dapat berkontribusi dalam pelestarian identitas sejarah daerah.

Narasumber kedua, Herry Sukoco, S. Hum, M. Hum, dari Museum Negeri Bengkulu, membahas koleksi naskah kuno Ulu yang memiliki nilai penting dalam pengembangan epigrafi di Bengkulu. Ia menjelaskan tahapan dalam mempelajari Aksara Ulu, yang saat ini hampir punah. Beliau menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian aksara ini, salah satunya dengan memproduksi kembali Naskah Ulu dan merekam peristiwa-peristiwa penting dalam tulisan tersebut. Menurutnya, kemampuan literasi suatu masyarakat mencerminkan tingkat peradabannya, sehingga mahasiswa menjadi agen utama dalam melestarikan warisan budaya ini.

Program PAEI INSIDER selesai pada pukul 11.30 WIB. Mahasiswa peserta menyampaikan bahwa mempelajari tulisan kuno ternyata sangat bermanfaat dalam memperkuat data sejarah yang mereka pelajari. Mereka berharap program ini dapat berlanjut dalam bentuk pelatihan lebih lanjut serta mata kuliah khusus di jurusan mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top