Goresan Aksara di candi Plaosan Lor

Acara “Napak Tulis” yang diselenggarakan oleh PAEI Komisariat Daerah (Komda) Jawa Tengah kali ini berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasme. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara PAEI Komda Jateng dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X. Acara yang bertujuan untuk mengenalkan dan mendalami sejarah serta aksara Jawa Kuna ini bertempat di Candi Plaosan Lor serta kantor unit BPK di Bugisan, Klaten, Jawa Tengah.

Dalam kesempatan ini, Giri Purnomo diundang sebagai narasumber utama. Beliau menyampaikan paparan menarik mengenai sejarah singkat Candi Plaosan yang merupakan salah satu situs candi bercorak Buddha-Hindu yang memiliki nilai sejarah tinggi. Kompleks Candi Plaosan terdiri dari dua bagian utama, yaitu Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Candi ini mencerminkan adanya hubungan harmonis antara penganut Hindu dan Buddha di masa lalu.

Setelah menyampaikan latar belakang sejarah, Giri Purnomo melanjutkan dengan memperkenalkan aksara Jawa Kuna yang dapat ditemukan di gugusan candi tersebut. Para peserta diajak untuk mengamati berbagai bentuk tulisan yang ada, baik yang terpahat pada batu maupun yang digores menggunakan cat berwarna merah. Aksara-aksara ini menjadi bukti sejarah yang sangat penting karena menggambarkan kebudayaan, kepercayaan, serta kehidupan sosial masyarakat pada masa itu. Para peserta yang sebagian besar merupakan pemandu wisata dari kawasan Prambanan, Boko, dan Plaosan tampak sangat antusias mendengarkan penjelasan ini. Mereka tidak hanya mendengar paparan dari narasumber, tetapi juga aktif berdiskusi serta bertukar pendapat mengenai berbagai temuan di kompleks Candi Plaosan Lor.

Dalam perjalanan mengelilingi kompleks candi, peserta semakin memahami bagaimana aksara Jawa Kuna menjadi bagian integral dari situs ini. Beberapa peserta bahkan mencoba membaca dan menyalin ulang aksara yang mereka temukan untuk memahami lebih dalam makna dari tulisan tersebut. Diskusi yang terjadi antara peserta dan narasumber menjadikan acara ini lebih hidup, karena setiap pertanyaan yang diajukan selalu mendapatkan jawaban yang informatif serta membuka wawasan baru mengenai sejarah dan budaya Jawa Kuna.

Setelah sesi di Candi Plaosan Lor selesai, para peserta kemudian melanjutkan kegiatan ke kantor BPK unit Bugisan yang terletak tidak jauh dari lokasi candi. Di tempat ini, mereka diberikan kesempatan untuk melihat lebih dekat berbagai prasasti yang terbuat dari lempeng tembaga serta mengunjungi ruang penyimpanan prasasti batu lainnya. Prasasti-prasasti ini merupakan peninggalan berharga yang mencerminkan perjalanan sejarah di masa lampau.

Salah satu bagian menarik dari sesi di kantor BPK unit Bugisan adalah keberadaan beberapa prasasti yang berbentuk lingga serta beberapa bagian penyusun bangunan candi yang memiliki nilai arkeologis tinggi. Tidak hanya itu, dua prasasti beraksara Cina yang merupakan bagian dari makam Cina juga menjadi perhatian utama dalam kunjungan ini. Kedua prasasti tersebut dikenal sebagai bongpay, yaitu batu nisan khas masyarakat Tionghoa yang berisi informasi mengenai leluhur yang dimakamkan.

Salah satu anggota Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) yang turut serta dalam acara ini mencoba membaca prasasti tersebut. Berdasarkan hasil pembacaan sekilas, diketahui bahwa kedua bongpay tersebut dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Qianlong dan Kaisar Daoguang. Sebagai tambahan informasi, Kaisar Qianlong memerintah antara tahun 1736 hingga 1795, yang dikenal sebagai periode kejayaan Dinasti Qing. Pada masa ini, terjadi ekspansi militer yang luas serta pertumbuhan ekonomi yang pesat, sehingga menjadikan Dinasti Qing sebagai salah satu kekuatan besar di Asia pada masanya. Sementara itu, pemerintahan Kaisar Daoguang (1820-1850) justru ditandai dengan berbagai krisis, seperti Perang Candu dan awal Pemberontakan Taiping yang mengguncang stabilitas politik dan ekonomi Dinasti Qing.

Melalui kegiatan Napak Tulis ini, peserta tidak hanya mendapatkan wawasan mengenai sejarah Candi Plaosan dan aksara Jawa Kuna, tetapi juga belajar mengenai pentingnya pelestarian prasasti sebagai bagian dari warisan budaya. Interaksi antara peserta, narasumber, dan para ahli epigrafi menjadikan acara ini lebih bermakna, karena mereka dapat secara langsung melihat, memahami, dan mendiskusikan peninggalan sejarah yang masih ada hingga kini.

Acara ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi para pemandu wisata yang hadir, sehingga mereka dapat menyampaikan informasi sejarah dengan lebih akurat kepada wisatawan yang berkunjung ke situs-situs budaya di kawasan Prambanan, Boko, dan Plaosan. Dengan demikian, upaya pelestarian sejarah dan budaya tidak hanya dilakukan oleh para arkeolog dan sejarawan, tetapi juga oleh masyarakat luas, termasuk para pemandu wisata yang berperan sebagai jembatan pengetahuan bagi para pengunjung.

Secara keseluruhan, Napak Tulis menjadi sebuah kegiatan edukatif yang berhasil menggali sejarah dan aksara Jawa Kuna dengan pendekatan yang menarik dan interaktif. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilakukan di masa mendatang, sehingga lebih banyak masyarakat yang peduli dan memahami pentingnya menjaga serta melestarikan warisan budaya yang ada di Indonesia.

1 thought on “Goresan Aksara di candi Plaosan Lor”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top