Tinggalan Prasasti di Semenanjung Muria dan Banyumas

Shoim Abdul Aziz, S.S.

Komisariat Daerah D.I. Yogyakarta

Teras Berita 

Daerah sebaran yang kaya prasasti selama ini dikenal di Jawa bagian tengah. Pada perjalanan penelitian yang telah dilakukan , ternyata wilayah bagian utara dan selatan Jawa juga memiliki tinggalan prasasti. Tulisan ini membahas tinggalan prasasti di Kab. Jepara, Kab. Pati dan Kab. Banyumas dengan mendeskripsikan fisik dan isi prasasti secara singkat. Tulisan ini merupakan bagian awal untuk mengenalkan tinggalan-tinggalan prasasti di luar wilayah yang selama ini dikenal sebagai pusat kerajaan Hindu-Budha. 

Pembahasan 

Wilayah pesisir utara dan selatan Jawa merupakan lokasi yang menarik sebagai sumber temuan prasasti. Pada kesempatan ini akan mencoba berbagi infomasi data prasasti yang telah didokumentasikan. Prasasti tersebut tersebar di Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati dan Kab. Banyumas. Berikut akan dipaparkan prasasti yang telah didokumentasikan. 

Prasasti di Wilayah Kabupaten Jepara

Beberapa prasasti yang pernah ditemukan di Kabupaten Jepara yaitu Prasasti Wihara i Wuṅaṇḍaik, watu sima Blingoh, dan Prasasti Candi Angin. Dari ketiga prasasti tersebut yang sudah mendapat pembahasan secara akademis yaitu Prasasti candi Angin (Dewanti, 2019). Berikut uraian analisis masing-masing prasasti:

1. Prasasti Wihara i Wuṅaṇḍaik

Informasi keberadaan Prasasti Wihara i Wuṅaṇḍaik ini sudah dijumpai pada tahun 2004 mengacu pada laporan peninjauan yang dilakukan Deputi Bidang Sejarah dan Purbakala Asdep Urusan Arkeologi Nasional. Ditemukan di hutan hutan Paluan, Desa Pangonan, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang berbatasan dengan Kabupaten Jepara. Pada tahun 2019 ditinjau ulang untuk memperbaharui data dan informasi karena hampir 15 tahun setelah kegiatan peninjauan. Prasasti Wihara i Wuṅaṇḍaik ini sekarang disimpan di rumah Pak Jai, penduduk Desa Payak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati. Menurut informasi bahwa Prasasti Wihara i Wuṅaṇḍaik ini ditemukan pada tahun 2001 di hutan Palohan, Desa Pangonan, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang berbatasan dengan Kabupaten Jepara. Prasasti Wihara i Wuṅaṇḍaik berupa satu lempeng prasasti logam berukuran 46,3 cm x 13,5 cm yang menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuna terdiri atas 10 baris tulisan. Prasasti Wihara i Wuṅaṇḍaik ini merupakan bagian dari sebuah prasasti, namun bagian yang memuat angka tahun tidak ada. Dari bentuk aksara dan nama-nama pejabat diketahui berasal dari masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung (898 – 910 M.). Isi prasasti yaitu tentang pembangunan bendungan dan pembayaan ganti rugi atas tanah masyarakat yang menjadi bendungan.

Gambar 1.  Prasasti Wihara i Wuṅaṇḍaik
(Dok. Tim Penelitian Semenanjung Muria 2019)

2. Prasasti Watu Sima Blingoh

Temuan ini hanya tersedia berupa foto mengenai keberadaan watu śīma berupa batu patok di wilayah Blingoh Kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara. Dari foto yang terlihat, tulisan prasasti tersebut hanya berupa empat baris aksara yang  melingkar. Keberadaan watu śīma ini diduga merupakan sebuah prasasti yang disimpan oleh penduduk lokal. Dari pembacaan yang dilakukan Dr. Titi Surti Nastiti, paleografinya diduga berasal dari abad ke IX-X, berbahasa dan beraksara Jawa Kuna

Gambar 2.  Prasasti Watu Sima Blingoh
Dok. Tim Penelitian Semenanjung Muria 2019

3. Prasasti Candi Angin

Prasasti ini berbahan batu andesit berbentuk persegi panjang. Ditemukan dalam kondisi rebah di teras ketiga Candi Angin. Deskripsi pembacaan menemukan bahwa aksara pada prasasti ditulis menggunakan metode pahat. Paleografi aksara sekitar abad XIII hingga XIV Masehi dengan bahasa dan aksara yang digunakan yaitu Jawa Kuna. Isi prasasti Candi Angin yaitu ajaran untuk menjaga kehidupan berumah tangga dan adanya kutukan apabila melanggar. Ketentuan tersebut berlaku bagi orang-orang yang menjalani kehidupan sebagai pendeta di Candi Angin.

Gambar 3. Prasasti Candi Angin  
(Dok. Tim Penelitian Semenanjung Muria 2019

Prasasti di Wilayah Kabupaten Pati

1. Prasasti Batu Jolong

Prasasti yang berbahan batu ini ditemukan pada koordinat UTM 0489498 dan 9266241 Zona 49m. Secara geografis prasasti ini ditemukan di hutan Joolong Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang berbatasan dengan Kabupaten Jepara. Prasasti tersebut berada pada wilayah yang relatif datar dan berada diantara pohon kopi dan cengkeh, serta berjarak 200 meter dari sebuah lumpang batu, artefak lain yang berada satu wilayah dengan prasasti ini.  

Temuan prasasti dalam bentuk utuh dengan tulisan yang masih tampak jelas. Prasasti tersebut memiliki tinggi 37 cm, lebar 27 cm, dan tebal 13 cm. Tulisan pada prasasti diduga menggunakan menggunakan aksara Jawa Kuna, serta dibawahnya diasumsikan merupakan tulisan yang sistem pembacaanya berupa notasi kidung seperti di Prasasti Candi Sanggar. Prasasti tersebut terdiri atas 2 baris dengan lebar tulisan kira-kira 10 cm. Kronologi berdasarkan paleografinya sekitar abad XIV hingga XV Masehi. Prasasti ini secara konstekstual berasosiasi dengan Candi Angin. Tinggalan pada Candi Angin yang berupa prasasti secara paleografi diperkirakan berasal dari sekitar akhir abad ke-XIII hingga abad ke-XIV. (Dewanti, 2019: 115) (79).

Prasasti Joolong jika dilihat dari bentuk dan struktur isinya menyerupai temuan sejenis yaitu prasasti pendek dari Candi Sanggar di lereng Gunung Bromo. yaitu berupa prasasti terkait puji-pujian yang dilengkapi semacam notasi-notasi. Candi Sanggar  merupakan candi yang berada di lereng Gunung Bromo, candi ini mempunyai struktur bangunan yang berteras dan merupakan candi masa Majapahit karena mempunyai data temuan angka tahun 1509 M (Istari, 2012: 64). Berdasarkan perbandingan tersebut diduga Prasasti Joolong ini mempunyai fungsi sebagai sarana ritual, yaitu berisi puji-pujian untuk prosesi.

Gambar 4. Prasasti Batu Joolong
(Dok. Tim Penelitian Semenanjung Muria 2019)

Prasasti di wilayah Kab. Banyumas

1. Prasasti Krumput

    Prasasti ini terletak di Jalan Buntu Banyumas sebelah Selatan pintu masuk PT PN IX Krumput- Banyumas. Prasasti ini didirikan sebagai peringatan Pembangunan jalan dari Banyumas menuju Buntu pada tahun 1845. Pada tahun tersebut Banyumas dipimpin oleh Adipati Cakranegara (bupati ke-15). 

    Secara fisik, prasasti Krumput teridentifikasi berukuran 60x50cm yang berada pada monumen beton menempel di dinding tebing berukuran 3x2m. Terdapat tanda khusus berupa pembatas kalimat berbentuk segilima yang berjumlah 5 buah dan juga berbentuk bunga. Bahasa dan aksara yang digunakan menggunakan 2 bahasa yang dipisahkan oleh pembatas, bagian atas (Jawa Baru) dan bagian bawah (Belanda). Kondisinya tidak terawat yang sudah terdapat untaian rumput liar dan sebagian tulisan telah rompal. Prasasti ini merupakan pengingat sebagai usaha membuka akses darat dari ibukota pemerintahan Banyumas ke Buntu yang kemudian terhubung ke Kebumen.

    Gambar 5. Prasasti Krumput

    Terdapat 7 baris kalimat yang dibagi menjadi dua bagian kanan dan kiri. Bagian kiri menggunakan bahasa Belanda dan bagian kanan berbahasa Jawa. Saat ini baru terbaca adalah baris 4 sampai  pada bagian yang berbahasa Belanda yaitu:

    Alih aksara
    Opzigtvan den Regent Raden Adipatti
    Cokro Negoro
    begonnen den __Augustus 1844 en
    geeinsdigdden 24 Augustus 1845

    Alih Bahasa
    Dalam pengawasan Bupati Raden Adipati Cokronegoro
    Dimulai pada bulan Agustus 1844 dan
    berakhir 24 Agustus 1845

    2. Prasasti Blabur Banyumas

      Prasasti Blabur Banyumas berada pada dinding tembok gedung asrama santri pria ‘Abdulloh Bin ‘Umar di Pondok Pesantren Miftahussalam Banyumas. Keadaannya terawat dengan kondisi bersih dan tulisan dapat terbaca jelas. Warna terdapat 2 yaitu biru sebagai background dan putih sebagai warna tulisan. Untuk melihat sedikit terhalang oleh rangka baja ringan atap sehingga harus naik dan menyesuaikan ketinggian prasasti berada. 

      Prasasti Blabur Banyumas ini terdapat pada 1 lingkungan yang sudah terdapat Cagar Budaya yang sezaman yaitu Masjid Nur Sulaiman dan 1 rumah yang menyimpan garis batas ketinggian banjir banyumas yaitu rumah batik di Jalan Pungkuran, Banyumas

      Identifikasi prasasti yaitu prasasti ini berbentuk persegi panjang dengan bahan terbuat dari material bligon dan bata. Teknologi/teknik pembuatan menggunakan teknik pahat pada dinding tembok, gaya/langgam penulisan abad 20 yaitu aksara Latin dan bahasa Belanda. Hiasan arsitektur dan ornament tidak ditemukan. Penggunaan warna yaitu bagian tulisan warna putih dan warna background biru.

      Prasasti Blabur Banyumas berkaitan dengan sejarah banjir yang terjadi di Banyumas tahun 1861 M. Banjir Banyumas sebagai peristiwa yang mendasari pembuatan prasasti ini tercatat dalam Memorie van Overgave Residen Banyumas. Dalam arsip ini berisi laporan pertanggungjawaban residen yang berwenang pada masa itu. Peristiwa banjir Banyumas tersimpan dalam arsip nomor inventaris Banjoemas (K9) Nomor 35 Tahun 1861 dan Nomor 3.6 Tahun 1862. Dalam arsip tersebut dituliskan bahwa “di Bulan Februari, banjir bandang melanda wilayah ini. Sejak saat itu sejarah daerah ini menjadi terlalu suram. Sungai Serayu yang mengaliri Karesidenan Banyumas dari arah timur laut ke barat daya membelah secara diagonal, mencapai ketinggian melebihi posisinya di arah utara”. Catatan tersebut menginformasikan keadaan pada saat terjadi banjir.

      Gedung Karesidenan Banyumas dibangun pada tahun 1834 M pada masa residen P.J. Overhand. Pembangunan kantor ini merupakan hasil dari perang Jawa yang kemudian membagi kerajaan Mataram Islam menjadi 2 kerajaan berikut penataan wilayahnya. Wilayah Banyumas merupakan pusat kadipaten dan kebudayaan yang kemudian oleh Pemerintah Kolonial Belanda dijadikan ibukota karesidenan. Pembangunan kota kolonial ini merupakan salah satu usaha kelengkapan kota yang juga dibangun yaitu gedung kesenian Societet Harmonie, Kantor POS dan Telegram, Penjara, Kantor Telepon, fgedung sekolah untuk warga Eropa dan Pribumi. Gedung pemadam kebakaran, kantor pengairan, kantor pekerjaan umum serat bangunan penjagaan. Gedung karesidenan ini ditempati hingga tahun 1937 dan terdapat 19 residen. Pada kejadian banjir bandang 1861 M ini pada masa residen S. van Deventer.

      Gambar 6. Kondisi eksisting tulisan prasasti
      Dok. TPCB Kab. Banyumas 2024

      Alih aksara
      OVERSTROOMING
      TE BANJOEMAS
      DEN 2 TOT 23 FEBRUARIJ 1861

      Alih bahasa
      Banjir
      di Banyumas
      dari 21 sampai 23 Februari 1861

      Leave a Comment

      Your email address will not be published. Required fields are marked *

      Scroll to Top