Inskripsi pada Lonceng-Lonceng Masa Kolonial di Kabupaten Kulon Progo

Danang Indra Prayudha

PAEI Komda DIY

Teras Berita 

Inskripsi yang ada di lonceng-lonceng masa Kolonial di Kabupaten Kulon Progo banyak ditemukan di daerah Kalibawang, yaitu satu kapanewon yang berada di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di kapanewon tersebut tersebar lonceng berbahan logam yang dibuat di Belanda dengan inskripsi berbahasa Jawa. Oleh masyarakat setempat, lonceng-lonceng itu dikenal dengan nama Lonceng Angelus yang berkaitan dengan fungsinya saat Doa Angelus, yaitu sebagai devosi atau wujud bakti kepada Bunda Maria.

Pembahasan 

Penyebaran Agama Katolik di Kalibawang

Keberadaan Lonceng Angelus tidak terlepas dari misi penyebaran agama Katolik di Jawa bagian tengah yang termasuk di dalamnya daerah Yogyakarta, sekarang Daerah Istimewa Yogyakarta. Misi tersebut terkait erat dengan peran Pastur Van Lith, Pastur Keyzer, Pastur Hebrans, dan Pastur Hoevenaars yang menjalankan misi penyebaran agama. Masing-masing dari pastur tersebut memiliki wilayahnya dalam menyebarkan agama Katolik. Van Lith menjalankan misi di Muntilan, Ambarawa, Bedono, dan Magelang. Keyzer menjalankan misi di Gedangan dan Semarang. Hebrans menjalankan misi di Semarang, Demak, Kudus, dan Jepara. Hoevenaars menjalankan misi di Yogyakarta dan Magelang (End dan Weitjens, 2002: 438). 

Misi yang ada di Kalibawang secara langsung berkaitan dengan Pastur Van Lith yang menjalankan misi di Muntilan. Jarak Muntilan dan Kalibawang yang tidak terlalu jauh menggerakkan Pastur Van Lith untuk menjalankan misi penyebaran agama Katolik di Kalibawang. Awal mula tumbuh dan berkembangnya agama Katolik di Kalibawang bisa dikatakan juga tidak luput dari peran empat orang warga yang berasal Kalibawang, yaitu Barnabas Sarikromo, Lukas Suratirta, Markus Suradrana, dan Yokanan Surawijaya. Mereka berempat memulai belajar agama Katolik kepada Pastur Van Lith di sekolah misi yang berada di Muntilan. Keempatnya juga dibaptis di Muntilan pada 20 Mei 1904 (Weitjen, 1995: 67). Prosesi pembaptisan berlanjut dengan pembaptisan 174 orang warga masyarakat Kalibawang yang berlangsung di mata air Sendangsono oleh Van Lith pada tanggal 14 Desember 1904 (Weitjen, 1995: 10). Setelah berbagai prosesi pembaptisan warga lokal yang berlangsung di Muntilan dan Kalibawang itu, perkembangan agama Katolik di Kalibawang semakin tumbuh dan berkembang secara pesat.

Berkembang pesatnya agama Katolik di Kalibawang mendorong pihak yang bertanggung jawab dalam menjalankan misi agama Katolik di Semarang untuk mengirim utusan khusus dalam rangka membimbing umat yang semakin bertambah di Kalibawang. L. Groenwegen, S.J. kemudian diutus untuk menjalankan misi penyebaran agama Katolik di Kalibawang. Tentunya misi penyebaran agama saat itu tidaklah mudah, salah satu kendalanya adalah keterbatasan sarana dan prasarana. Keterbatasan itu membuat warga Kalibawang harus melakukan perjalanan pulang pergi dari Kalibawang menuju Muntilan untuk mengikuti sekolah misi dan berbagai kegiatan keagamaan pada hari Sabtu dan Minggu. Untuk mengatasinya, Pastur L. Groenewegen, S.J. terdorong untuk mendirikan sekolah di Ploso (tidak jauh dari Kalibawang) yang berfungsi sebagai tempat belajar serta kapel. Bangunan-bangunan untuk ibadah itu mulai dibangun pada tahun 1918 dan selesai pada tahun 1922. Sekolahan yang dibangun tidak hanya berfungsi sebagai lembaga penyelenggara pendidikan, tetapi juga sebagai kapel stasi, yaitu pusat kegiatan umat Katolik di bawah paroki yang umumnya berada di desa-desa (Paroki Santa Lisieux Boro, 2007: 1).

Fasilitas pendidikan yang dibangun oleh Prakarsa Pastur L. Groenewegen, S.J membuat penganut agama Katolik di Kalibawang semakin bertambah jumlahnya (Saryanto, 2011: 15). Hal tersebut menjadi salah satu alasan dibangunnya Stasi Kalibawang yang sebelumnya bagian dari Stasi Mendud (Haryono, 2000: 8).  Setelah masa tugas Pastur L. Groenewegen, S.J. berakhir, perannya dalam membimbing umat Katolik di Kalibawang digantikan oleh Pastur J.B. Prennthaler, S.J., seorang Imam Jesuit berdarah Austria yang kemudian dikenal dalam upayanya merintis misi penyebaran Katolik (misionaris) di perbukitan Menoreh, Kabupaten Kulon Progo. Pastur J.B. Prennthaler, S.J. mulai menjadi imam di Kalibawang pada tahun 1924. Berikutnya, ia membentuk perkumpulan umat yang dipimpin oleh satu orang ketua atau pamomong yang berada di Promasan dan Boro sebagai upaya untuk meningkatkan pembinaan umat (Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, 2013: 8 dan Prabawa, 2015: 16).

Semenjak menggantikan Pastur L. Groenewegen, S.J., secara bertahap Pastur J.B. Prennthaler, S.J. mulai mengembangkan misi penyebaran agama Katolik di Kalibawang. Di Kalibawang, karyanya antara lain berada di Boro dan di Promasan. Di Boro, ia membangun Gereja Santa Theresia Lisieux Boro pada tahun 1930, yang kemudian secara berkelanjutan berkembang fasilitas penunjang lain di sekitarnya. Di Promasan, ia menjadi perintis berdirinya Gereja Santa Perawan Maria Lourdes Promasan, yang kemudian dilanjutkan oleh oleh Pastur Jasawiharja, S.J. bersama dengan Pastur Tephema (Hardawiryana dalam Prabawa, 2013: 34). Setelah itu agama Katolik semakin berkembang dan umat terus bertambah. Perkembangan tersebut menyebabkan munculnya fasilitas-fasilitas ibadah di Kalibawang. 

Lonceng-Lonceng Angelus di Kalibawang

Keberadaan lonceng-lonceng di Kalibawang tidak terlepas dari peran Pastur J.B. Prennthaler, S.J. Sebagai salah satu bentuk devosi kepada Bunda Maria, ia menempuh cara dengan membuat lonceng sebagai bagian dari sarana ibadah (Tim Ayo Gumregah Amrih Dadia Berkah, 2007: 80). Guna misi penyebaran agama Katolik di Kalibawang yang kemudian meluas hingga Bukit Menoreh, sejumlah dua belas lonceng dipesan. Lonceng-lonceng yang kemudian dikenal dengan sebutan Lonceng Angelus tersebut dibuat dengan dukungan dan bantuan dari umat Katolik di Belanda bagi masyarakat di Jawa (Door B. Sondaal, 1936: 140). Lonceng-lonceng dibuat di pabrik pengecoran bernama Petit en Fritsen, yang berlokasi di Aarle-Rixtel, Belanda. Setelah selesai dibuat di Belanda, lonceng-lonceng dikirim ke Jawa pada tanggal 31 Oktober 1928. Merujuk catatan tertulis dalam St. Claverbond yang terbit pada tahun 1928, Lonceng-Lonceng Angelus dibuat dari bahan perunggu (NN, 1928: 280). 

Sejumlah dua belas lonceng yang dipesan di Belanda tersebut memiliki keseragaman inskripsi. Di setiap bagian atas lonceng terdapat tulisan dalam bahasa Jawa, “DEWI MARIAH, SEMBAH BAKTINIPOEN AANAH DJAWI OEGI!”. Di bawah tulisan tersebut terdapat tulisan, “PETIT & FRITSEN N.V. AARLE RIXTEL (N.B.)”, yaitu nama pabrik pengecoran lonceng tertua dan terbesar di negeri Belanda. Di bawahnya lagi tertulis angka yang menunjukkan tahun 1928 yang dibuat dengan cara ditera. Di sisi sebaliknya, untuk menghormati Bunda Maria, dicetak logo timbul Bunda Maria yang menggendong Anak Ilahi (NN, 1928: 281-282).

Salah satu yang menarik perhatian dalam Lonceng Angelus adalah inskripsinya. Lonceng dibuat oleh orang Belanda di negara Belanda dengan inskripsi berbahasa Jawa. Bahasa Jawa yang dipilih tersebut berkaitan dengan cara komunikasi yang dilakukan oleh Pastur J.B. Prennthaler, S.J. dalam berkomunikasi dengan masyarakat setempat yang merupakan orang-orang Jawa.

Berkaitan dengan penyebaran agama Katolik yang dilakukan oleh Pastur J.B. Prennthaler, S.J., tampaknya salah satu pendekatan yang ia lakukan, yaitu penggunaan bahasa Jawa dalam inskripsi dipandang sebagai suatu media komunikasi penting dalam upaya penyebaran agama. Bahasa yang digunakan memfasilitasi komunikasi yang bertujuan untuk memudahkan dalam menjalin dan mempererat ikatan antarindividu dalam interaksi sosial masyarakat. Dalam hal ini, penggunaan bahasa Jawa dipandang dapat meningkatkan minat dan pemahaman masyarakat dalam beribadah bagi masyarakat di Kalibawang yang merupakan suku Jawa.

Gambar 1. Lonceng Angelus di Gereja Gereja Santa Perawan Maria Lourdes Promasan
Sumber : Danang Indra Prayudha
Gambar 2. Inskripsi yang terdapat di Lonceng Angelus
Sumber :  Danang Indra Prayudha
Gambar 3. Inskripsi yang terdapat di Lonceng Angelus
Sumber :  Danang Indra Prayudha
Gambar 4. Logo Bunda Maria yang terdapat di Lonceng Angelus
Sumber : Danang Indra Prayudha

Selain memiliki keunikan berupa inskripsi berbahasa Jawa, dua belas Lonceng Angelus itu meskipun memiliki kesamaan bahan, tulisan, dan logo Bunda Maria, tetapi memiliki ukuran berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan ukuran bertujuan untuk menghasilkan nada yang berbeda ketika dibunyikan. Perbedaan nada memiliki tujuan tersendiri. Saat lonceng dibunyikan secara bersamaan, perbedaan nada dari tiap-tiap lonceng yang ditempatkan tersebar di masing-masing desa akan menghasilkan bunyi yang bernada secara harmonis saling bersahutan. Penempatan lonceng di lokasi yang berbeda-beda menjadi identitas khusus bagi tempat keberadaan lonceng. Saat dibunyikan masing-masing secara tidak bersamaan, setiap bunyi menjadi tanda pengenal dari tiap lokasi tempat lonceng berada. Bunyi dari masing-masing lonceng menjadi pengenal saatnya berdoa bagi masyarakat sesuai tempat ibadah di mana diletakkan lonceng (NN, 1928: 281). Saat ini Lonceng-Lonceng Angelus tersebar di Kapanewon Kalibawang (Kabupaten Kulon Progo) dan sekitarnya. Lonceng masih bisa menjumpai di antaranya yang berada di:

  1. Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan, di Kalurahan Banjaroyo, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. 
  2. Kapel Santo Lucas Kajoran, Kalurahan Banjaroyo, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.
  3. Kapel Santo Yusup Bogo, Kalurahan Banjarharjo, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.

 

Gambar 5. Dua orang anak kecil sedang berfoto bersama dengan 12 Lonceng Anggelus yang nantinya akan di kirik ke Jawa sebagai bagian dari Misi Kalibawang
Dokumen : St. Claverbond, Januari 1928, halaman 28

Daftar Pustaka

  • Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. 2013. Laporan Pendataan Gereja Katolik Santa Perawan Maria Lourdes Promasan. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Door B. Sondaal, S.J. 1936. “Klokkenspel od Maria Hemelvaart”. St Claverbond, Januari 1936. Nijmigen: N.V. Centrale Drukkerij. Halaman 137-140.
  • End, Van Den Th, and S.J., Jan Weitjens. Ragi Cerita II. Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an – Sekarang. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2002.
  • Haryono, Anton. 2000. “Misi Jesuit di Yogyakarta: Studi Tentang Pengembangan Pewartaan Agama Bagi Suku Jawa 1914-1940”. Thesis, Yogyakarta: Program Studi Sejarah Ilmu Humaniora Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
  • NN. 1928. “Angelus-Klokjes voor de Jawa-Missie”. St Claverbond, Januari 1928. Nijmigen: N.V. Centrale Drukkerij. Halaman 180-182.
  • Paroki Santa Theresia Lisieux Boro. 2007. 80 Tahun Gereja Santa Theresia Lisieux Boro 1922-2007 “Ayo Gumregah Amrih Dadia Berkah”. Boro: Paroki Santa Theresia Lisieux Boro.
  • Prabawa, Deny. 2015. “Arsitektur dan Latar Belakang Penerapan pada Kompleks Gereja Lama di Kalibawang, Kulon Progo, DIY”. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
  • St. Claverbond, Januari 1928, halaman 28.
  • St. Claverbond, Januari 1930, halaman 120.
  • St. Claverbond, Januari 1935, halaman 170.
  • Tim Ayo Gumregah Amrih Dadia Berkah. 2007. Ayo Gumregah Amrih Dadia Berkah: 80 Tahun Gereja Santa Theresia Lisieux Boro. Kalibawang: Gereja Santa Theresia Lisieux Boro.Weitjen, Jan SJ. 1995. “Gereja Katolik Yogyakarta 1865-1945” dalam Gereja DanMasyarakat, Sejarah Perkembangan Gereja Katolik Yogyakarta. Yogyakarta: Panitia Misa Syukur Pesta Emas Republik Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top