Jenis Ken untuk Pejabat Tinggi Dalam Prasasti Sima Masa Kayuwangi

Giri Purnomo

Giripurnomo262@gmail.com

Teras Berita

Ken merupakan pakaian yang digunakan oleh kaum perempuan. Ken disebutkan dalam prasasti sima pada bagian pesek-pasek. Prasasti sima menyebutkan ken dalam berbentuk lembaran dengan satuan helai. Pasek diberikan oleh penerima sima sebagai hadiah kepada pejabat yang menghadiri prosesi upacara penetapan sima. Prasasti sima masa pemerintahan raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala menyebutkan beberapa jenis ken meliputi Ātmaraksa, Kalamwantan, Inmas, Kain buat iṅulū, Putiḥ, Halaŋpakan, Raṅga, Paṅkat. Dari semua jenis ken yang disebutkan dalam prasasti, hanya satu jenis ken yang bisa dilihat artefaknya yaitu ken putih. Penulis menemukan informasi pasek ken dengan yang diganti dengan bentuk emas, sebanyak 1 buah

PEMBAHASAN

Kerajaan Mataram Kuno adalah salah satu kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara dan berpusat di Pulau Jawa. Salah satu raja yang pernah memerintah adalah Kayuwangi, merupakan anak dari Rakai Pikatan. Prasasti Siwagrha 778 Ć menyebutkan prosesi pengangkatan Kayuwangi sebagai raja Mataram menggantikan posisi ayahnya dengan nama Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (Darmosoetopo, 2003: 29; 35).

Kayuwangi memerintah sampai tahun 885 M dan mengeluarkan banyak prasasti baik yang berbahan batu maupun logam. Prasasti masa Kayuwangi membahas sima dan utang-piutang berjumlah 50 buah prasasti. Hasil pengelompokan prasasti berdasarkan isi bahasan,  lebih dari 30  prasasti  membahas sima yang terdiri dari prasasti yang berbentuk manumen, lempengan maupun patok batas. Sepuluh prasasti menyebutkan pasek-pasek berupa ken, yang disebutkan setelah pembagian pasek kepada kaum laki-laki. Kuantitas dan kualitas pasek yang diterima berbeda antara satu sama lain, semua kembali kepada kemampuan pnerima sima (Maziyah, 2019).

            Jenis ken yang disebutkan dalam prasasti sima diantaranya Kalamwantan dan Paṅkat. Jenis ken kalamwantan dalam Prasasti Humanding baris 9-10 ”…wahuta ˚i sirikan waliŋbiŋ si kukun mas mā 4 wḍihan ˚aṅsit yu 1 ˚anakbinya si bukuŋ mas mā 2 kain kalamwantan wlaḥ 1…”. Pejabat yang hadir dalam prosesi penetapan sima akan diberikan hadiah oleh penerima sima sebagai bentuk terima kasih dan syukur. Urutan penyebutakn kain dalam prasasti sima pertama singhel (pakaian pendeta, apabila ada) selanjutnya wdihan (pakaian laki-laki) dan terakhir ken (pakaian perempuan). Ken dalam prasasti sima disebutkan persis setelah penyebutakan kain wdihan. Pasek merupakan hadiah atau ucapan terima kasih penerima sima kepada sesorang yang telah hadir dalam prosesi penetapan sima. Besar kecilnya pasek yang diterima akan berbeda satu pejabat denagan pejabat lainnya (Wurjantoro, 2011).

            Berasarkan uraian diatas muncul pertanyaan apa saja jenis ken yang diberikan kepada pejabat tinggi ?, apa jabatan penerima pasek ken tersebut ?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukan jenis ken yang dijadikan pasek dalam prasasti sima masa Kayuwangi. Selanjutnya dapat menguak jabatan yang sedang diemban oleh dirinya atau suaminya di masa Kayuwangi, mengingat ken adalah pakaian perempuan.

            Metode yang digunakan dalam penelitian ini pertama, membaca ulang dan menafsirkan kalimat yang menyebutkan ken dengan menggunakan Kamus Jawa Kuna Indonesia karya Zoetmulder (2011). Kedua, kritik intern terhadap urutan kalimat penyebutan pasek terutama ken, sehingga diperoleh nama, jabatan dan jumlah pasek yang diterima. Penulis mencoba memunculkan informasi yang terdapat prasasti sima dalam pasek utamanya pada bagian penyebutan ken. Prasasti sima masa Kayuwangi yang memuat pasekken meliputi Prasasti Telaga Tajung, Prasasti Waharu I, Prasasti Humanding, Prasasti Jurungan, Prasasti Haliwangbang, Prasasti Mulak I, Prasasti Kwak II, Prasasti Taragal, Prasasti Ratawun I, dan Prasasti Ratawun II. Dua prasasti menyebutkan jenis ken namun diberikan kepada pejabat menengah dan bawah, yaitu dalam Prasasti Haliwangbang dan Prasasti Mulak I. Lima prasasti hanya menyebutkan ken tanpa memberikan informasi jenisnya, yaitu Prasasti Waharu I, Prasasti Kwak II, Prasasti Taragal, Prasasti Ratawun I, dan Prasasti Ratawun II. Tiga prasasti menyebutkan ken yang diberikan kepada kaum perempuan keluarga pejabat tinggi, yaitu Prasasti Telaga Tanjung, Humanding dan Jurungan (Purnomo, 2022). Berikut penulis tampilkan tabel penyebutan ken untuk pejabat tinggi.

Tabel: Penyebutan ken dalam prasasti sima masa kayuwangi
Sumber: katalog pribadi penulis, 2021

Wurjantoro dalam Buku Sri Anugerah Maharaja tahun 2018 menuliskan Prasasti Telaga Tanjung (861 M) menyebutkan ken diberikan kepada dua perempuan pejabat tinggi yaitu istri Pangurang Simpe dan Pu Dimit dari Kayuwangi, berikut kutipan prasastinya

 “… anakwi saŋ pa (b.7) ṅuraŋ simpé paweḥ i sira ken ātmarakśa sawlaḥ…” (b.8)“… anakwi swāmi kayuwaṅi pu dimit paweḥ i (b.9) sira ken a… ra sawlaḥ…” (b.10).

Terjemahannya:

Istri pejabat sang Paṅuraŋ Simpé diberikan kain ken jenis ātmarakśa sehelai kain. Istri dari suami yang berasal Kayuwaṅi bernama Pu Dimit diberikan kain ken (ātmaraksa) sehelai kain.

Jenis ken ātmarakśa hanya disebutkan dalam Prasasti Telaga Tanjung dan hanya diberikan kepada dua orang di atas. Ātmarakśa berasal dari dua kata yaitu atma yang berati “jiwa” dan raksa yang berarti “besar” sehingga dapat diartikan sebagai seorang pemberani, dalam konteks ini bahwa jenis ken ātmarakśa diberikan kepada istri pejabat yang memiliki tanggung jawab besar (Mardiwarsito dkk, 1992:138).

Foto: Prasasti Telaga Tanjung sisi belakang di Museum Nasional Indonesia, Jakarta
Sumber: Koleksi Pribadi, 2022

Prasasti Humanding berangka tahun 875 M menyebutkan wahuta i sirikan waliŋbiŋ si kukun mas mā 2 wḍihan aṅsit yu 1 anakbinya si bukuŋ mas mā 2 kain kalamwantan wlaḥ 1 (I.b.9-10).

Terjemahannya:

Pejabat Wahuta di Sirikan Walingbing bernama Si Kukun diberi uang emas seberat 2 sepasang kain untuk laki-laki jenis Angsit, istrinya bernama Si Bukuŋ diberi uang emas seberat 2, sehelai kain untuk kuam perempuan jenis Kalamwantan.

Jenis ken Kalamwatan, secara harfiah terdiri dari dua kata yaitu kalam dan watan, kalam berarti kalem atau anggun atau halus dan watan adalah sebutan arah mata angin yaitu timur. Kalamwatan adalah jenis ken halus yang berasal dari daerah timur. Prasasti ini di buat di Jawa sehingga besar kemungkinan asal kain ini dari daerah Bali sampai Nusa Tenggara dimana daerah ini sampai saat ini masih terkenal dengan kain tenunnya. Secara tidak langsung adanya penyebutan ken Kalamwatan menunjukan interaksi wilayah yang luas dan ada perjalanan yang jauh pastinya membutuhkan biaya yang tidak murah, sehingga ken jenis ini tidak sembarangan diberikan (Maziyah, 2019). Jenis ken ini diberikan kepada istri Sirikan dimana jabatan ini dapat disamakan dengan raja daerah atau pejabat tinggi yang ditugaskan memrintah di lingkup daerah.

            Prasasti Jurungan berangka tahun 876 M menyebutkan pemberian ken kepada ibu rakryan dan istrinya. Penyebutan ken dalam prasasti ini sedikit berbeda dari sebelumnya yaitu

 i rakryān ibu mas mā 8 kain inmas mā 4 i rakryān anakbi mas su 1 kain buat iṅulū wlaḥ 1 (1.b.6-7).

terjemahannya:

Ibu dari seorang Rakryan diberi emas sebanyak 8 māsa dan ken seharga emas 4 māsa. Istri dari seorang Rakryan diberi emas sebanyak 1 su dan kain perempuan dibuat untuk pemimpin sebanyak 1 helai.

Penyebutan ken sebagai pasek-pasek dalam prasasti ini berbeda dengan prasasti lainnya, dimana ken yang diberikan kepada ibu dari seorang rakryan bukan berupa kain, namun ditukar dengan uang emas sebesar 8 masa, dalam prasasti ini disebut sebagai “ ken in mas” atau uang emas. Penulis menyimpulkan jenis ken inmas bahwa ken yang seharusnya diberikan kepada ibu dari seorang rakryan tidak dapat dihadirkan atau susah mendapatkannya, sehingga jenis ken diganti menggunakan emas yang seharga dengan ken tersebut. Penulis belum menemukan secara pasti alasan penggantian jenis ken ini, namun secara logis penerima sima juga harus mempersiapkan banyak hal untuk prosesi penetapan sima.

Selain itu juga, terdapat ken jenis lain yang diberikan kepada istri yaitu ken jenis buat ingulu. Ken Buat Ingulu adalah jenis ken yang khusus dibuat untuk pejabat tinggi dilingkungan kerajaan. Jenis ken ini terdiri dari dua suku kata yaitu “buat” yang berarti untuk dan “ingulu” yang berarti diatas/ kepala/ pemimpin, sehingga dapat diartikan sebagai dibuat untuk pemimpin. Jabatan seorang rakryan adalah pemimpin utusan kerajaan yang bertugas di daerah. Sehingga ken jenis ini selaras dengan jabatannya dan diberikan kepada istrinya (Purnomo, 2022).

Kesimpulan

Ken merupakan salah satu jenis pasek untuk pejabat yang meghadiri prosesi penetapan sima. Pemberian pasek kepada pejabat dapat menggambarkan status jabatannya dalam pemerintahan dan asal atau makna ken yang diberikan. Prasasti Telaga Tanjung menyebutkan dua kali jenis kenātmarakśa  yang diberikan kepada istri pejabat pangurang dan istri raja daerah kayuwangi. Prasasti Humanding menarik dibahas sebab jenis kenkalamwatan diberikan kepada istri sirikan bernama si Bukung dan emas sebesar 2 masa. Jenis kenkalamwatan mampu memberikan informasi dari mana asal kain, yaitu daerah timur atau timurnya wulayah kerajaan. Sementara itu, Prasasti Jurungan lebih menarik dan unik dari kedua prasasti sebelumnya sebab, penggantian jenis ken dengan emas sangat jarang ditemui. Prasasti Jurungan menyebutkan dua jenis ken yang diberikan kepada ibu dan istri rakryan serta masing-masing berbeda jenisnya. Penulis baru menemukan jenis ini dalam prasasti sima utamanya masa Rake Kayuwangi.

Daftar Pustaka

  • Darmosoetopo, Riboet. 2003. Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Abad IX – X TU. Jogjakarta. Prana Pena.
  • Mardiwarsito, L dkk. 1992. Kamus Indonesia-Jawa Kuno. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Maziyah, Siti. 2019. “Teknik Pembuatan Kain dan Fungsi Kain pada Masyarakat Jawa Kuna Abad IX-XV Berdaarkan Sumber Arkeologi”. Disertasi. Universitas Gadjah Mada.
  • Purnomo, Giri. 2022. “ Ken dalam Prasasti Sima Masa Kayuwangi” dalam  Tummotowa (5(1):27-38). Manado. Balar Manado.
  • Wurjantoro, Edi. 2011. Prasasti Berbahasa Jawa Kuno Abad VIII-X Masehi Bukan Koleksi Museum Nasional Alihaksara dan Terjemah. Depok.
  • __________.2018. Anugerah Sri Maharaja Kumpulan Alihaksara dan Alihbahasa Prasasti-Prasasti Jawa Kuna dari Abad VIII-XI. Depok: Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Karacitra.
  • Zoetmulder. 2011. Kamus Jawa kuna Indonesia. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top