Abimardha Kurniawan
PAEI Komda Jawa Timur
Materi disampaikan dalam Diskusi Epigrafi Nusantara Khusus di Sidoarjo, 26 Mei 2024.
Sebelum mengenal model pendidikan modern seperti sekarang, masyarakat Jawa telah memiliki lembaga-lembaga pendidikan penting pada masanya. Salah satu yang paling terkenal adalah pesantren pada era pasca-Islamisasi. Jejaknya masih dapat disaksikan hingga kini. Sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan kader-kader yang mumpuni dalam ilmu agama Islam, ternyata pesantren juga mengalami dinamika dalam hal kurikulum maupun metode pembelajaran. Pesantren juga bukan tanpa akar. Lembaga pendidikan tradisional yang diklaim hanya ada di Jawa ini—diantara dunia Islam secara global—ternyata memiliki akar dari dunia pra-Islam (Lombard 1996). Pesantren berkembang dari aktivitas pendidikan aksestisisme di lingkungan maṇḍala. Sayangnya, sistem pendidikan yang berkembang di lingkungan yang jauh dari keramaian itu seringkali masih buram dan butuh penelusuran lebih lanjut.
Diskusi ini membahas masalah sistem pendidikan di lingkungan maṇḍala pedalaman Jawa yang dihuni oleh komunitas religius, terutama dalam hal metode pembejalarannya. Komunitas ini relatif masih belum banyak dikenal, walaupun dalam berbagai wacana tekstual eksistensi mereka juga banyak tercatat. Tulisan ini akan mengambil sampel teks kidung dari abad ke-16, yakni Gita Sinangsaya (simak Kriswanto 2012, Kurniawan 2023). Abad ke-16 merupakan masa ketika Jawa mengalami transisi penting dari periode Hindu-Buddha ke Islam. Selain itu, sastra kidung merefleksikan situasi historis masyarakat yang menghasilkannya. Oleh karena Gita Sinangsaya adalah karya sastra produk lingkungan maṇḍala, dapat diasumsukan bahwa pembahasan terhadap teks ini akan memberi kontribusi dalam upaya rekonstruksi budaya masyarakat di lingkungan maṇḍala, khususnya dalam bidang pendidikan.
Epilog teks Gita Sinangsaya menyebutkan bahwa karya ini selesai ditulis pada tahun Śaka 1453 (guna marganira jala bumi) atau sekitar tahun 1531 Masehi, di suatu pertapaan (batur) milik seorang “raja penyair” (kawisora) yang ada di kawasan Gunung Wilis, Jawa Timur. Akan tetapi, naskah-naskah yang mendokumentasikan teks ini berasal dari skriptoria kawasan Gunung Ungaran dan Merbabu (Perpusnas 32 L 212, 32 L 213, dan 32 L 313). Kronologi salah satu naskah dari Merbabu—berdasarkan kolofon yang menyertai teks—menunjukkan angka 1592 Śaka atau sekitar 1670 Masehi, sezaman dengan masa pemerintahan Amangkurat I (memerintah 1619—1677). Walaupun ada rentang masa hingga satu abad lebih, sumber-sumber material dari abad ke-17 itu memiliki potensi yang setara sebagai saksi atas constitutio textus dari Gita Sinangsaya karena variasi bacaan paralel antara ketiga sumber relatif kurang signifikan. Bacaan ketiganya dapat saling menunjang. Selain itu, tidak ada lagi naskah lain yang mendokumentasikan teks Gita Sinangsaya. Jadi, dengan segala kelemahan dan kelebihannya, kita membaca teks abad ke-16 melalui sumber material dari periode yang lebih muda, yakni abad ke-17.
Pembelajaran adalah suatu proses yang dirancang sehingga memungkinkan terjadinya aktivitas belajar-mengajar. Metode sorogan terlihat ketika Sandirasa mendapat wejangan seputar etika (daśaśīla) dalam kehidupan aksetisisme dari sang guru (GS 12—34). Ia merima semua ajaran secara pasif. Kedua, metode baṇḍongan. Metode ini menerapkan pembejalaran secara berkelompok atau kuliah umum, sebagaimana terlihat ketika tokoh Ragadarma menyampaikan ajaran kebajikan (Sang Hyang Darma) kepada para muridnya (GS 114—117). Ketiga, metode gotĕkan atau diskusi. Metode ini dipraktikkan oleh orang-orang yang memiliki taraf keilmuan yang setara. Hal itu terlihat ketika kakak-beradik Sandirasa dan Sinangsaya menyinggahi sebuah pedukuhan di daerah Daha lalu mereka terlibat diskusi dengan seorang abĕt, wasi, dan kalusa setempat (GS 53—65). Ketika menguraikan proses pembelajaran tersebut, teks Gita Sinangsaya selalu memberi petunjuk terkait berapa lama hal itu berlangsung. Formulanya sama. Masing-masing proses ditutup dengan ungkapan tutug sakulĕm… rahina mangkwa ya bangbang wetan ‘tepat semalam suntuk … pagi pun tiba dengan ufuk kemerahan’ (GS 34, 65, 117). Artinya, proses pembelajaran itu berlangsung semalam suntuk. Kegiatan belajar yang digambarkan dalam teks selalu berlangsung pada malam hari dan berakhir ketika fajar. Selain itu, Gita Sinangsaya dapat digolongkan kedalam kelompok karya sastra bertema pengembaraan sorang siswa dalam mencari ilmu. Karya sastra semacam ini menarasikan cerita seorang siswa yang datang ke berbagai pusat pembelajaran untuk mencari guru yang tepat baginya dalam memperdalam ilmu. Kartika Setyawati (2010) menganalogikan proses pembelajaran ini dengan tīrthayātrā, semacam perjalanan spiritual mengunjungi berbagai tempat suci (tīrtha). Istilah tīrtha sendiri secara harafiah berarti ‘tempat menyeberang’, sehingga dapat diartikan bahwa tīrtha itulah yang akan mengantar seseorang untuk menyeberang dan mencapai tahapan spiritual yang lebih tinggi. Tokoh utama (nāyaka) dalam Gita Sinangsaya mempraktikkan perjalanan spiritual ini untuk mencari guru. Ia tidak hanya berhenti di satu titik, dan pola perjalanannya juga menarik untuk disimak. Perjalanannya dimulai dari Gunung Wilis, lalu turun ke selatan menuju Waleri dan berlanjut ke Panataran, Jagul, Gunung Kampud (Kelud, sekarang), dan Daha. Akhirnya, dari Daha sang tokoh kembali ke Gunung Wilis, titik awal keberangkatannya (simak Peta 1). Jadi, perjalanan si tokoh menerapkan pola sirkular atau melingkar. Perjalanan berakhir di titik awal keberangkatan. Pola ini penting untuk memahami nalar di balik proses pembelajaran itu. Satu agen penting yang menjadi perantara agar tujuan pembelajaran tercapai adalah guru.
Narasi Gita Sinangsaya menempatkan guru sebagai sososk sentral. Hal itu terkait dengan konsep guruśuśrūṣa yang merupakan satu diantara lima poin niyama (akrodha, guruśuśrūṣa, śauca, āhāralāghawa, dan aprāmada) dan menjadi fondasi moral bagi pelaku spiritual selain lima poin yama (ahiṃsā, brahmacarya, satya, awyāwahāra, dan astainya). Teks Wratiśāsana memberi pengertian istilah guruśuśrūṣa sebagai ‘selalu mengupayakan agar karya sang guru tercapai, dan itulah yang disebut sebagai bakti kepada guru, yang menjadi motivasi untuk selalu mendengarkan semua esensi di balik ajaran sang guru’ (simak Rani 1961). Guru adalah penentu keberhasilan proses pembelajaran. Tujuan pengembaraan tokoh utama dalam Gita Sinangsaya pertama-tama adalah mencari guru yang akan mengantarkannya mencapai tujuan spiritualnya. Guru adalah patron pengetahuan. Ia dianggap sebagai manifestasi kekuatan Adikodrati dimana semua ilmu pengetahuan bersumber. Siswa diposisikan sebagai klien yang selalu bersikap pasif laiknya botol kosong yang diisi air hingga penuh. Walaupun terlihat tidak seimbang dalam kacamata pendidikan modern, namun di sinilah kita bisa memahami bahwa episteme dunia pendidikan di Jawa pada masa itu memang demikian adanya
Sebagai penutup, ada baiknya menyimak kembali posisi penting sastra kidung dalam mengisi “ruang kosong” dalam narasi sejarah. Sisi misterius komuitas-komunitas religius di lingkungan maṇḍala yang jauh dari keramaian dapat dijelaskan melalui narasi sastra kidung. Walaupun demikian, model pembacaan khusus tetap diperlukan mengingat statusnya sebagai karya sastra yang memiliki ragam bahasa tersendiri. Ketika sejarah masih mengandung rumpang di sana-sini, yaknilah sastra akan melengkapi!
Rujukan
- Kriswanto, Agung. 2012. Gita Sinangsaya: Suntingan Teks dan Terjemahan. Jakarta: Perpustakaan Nasional.
- Kurniawan, Abimardha. 2013. “Gita Sinangsaya: Suntingan Teks, Terjemahan, Disertai Kajian Semiotika Riffaterre. Tesis Magister Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. [belum diterbitkan]
- Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Rani, Sharada. 1961. Wratiśāsana, a Sanskrit Text on Ascetic Discipline with Kawi Exegesis. New Delhi: Internasional Academy of Indian Culture.
- Setyawati, Kartika. 2010. “Kidung Surajaya: Surajaya sebagai Tīrthayātrā”, Jumantara 1(1), hal: 82—93.
