Muh. Subair
PAEI Komda Bali Nusra Sulawesi
Azimat dalam budaya Bugis-Makassar memiliki sejarah panjang, di mana praktik dan penggunaan azimat berkembang sejak masa lampau. Berdasarkan penelitian, azimat berasal dari mantra yang dituliskan dalam bentuk simbol-simbol atau tulisan tertentu untuk tujuan spiritual. Tulisan ini akan menginformasikan latar belakang munculnya azimat, metode pembuatannya, serta kegunaannya dalam kehidupan masyarakat. Azimat, seperti Naga Sikoi, sering digunakan untuk perlindungan, kesuksesan, dan hubungan antar manusia dengan alam.
Azimat merupakan bagian dari warisan budaya Nusantara yang berkaitan erat dengan keyakinan terhadap kekuatan gaib (Riza, 2021). Secara historis, jejak azimat telah digunakan sejak zaman kerajaan, seperti dalam cerita mistik Tomanurung dan tokoh magis Batara Guru (Amir, 2017) (Zainal et al., n.d.). Selain itu, azimat juga dianggap sebagai alat untuk menambah kekuatan spiritual dalam menghadapi tekanan kolonial dan krisis ekonomi di abad ke-20 (Wawancara, NB, 2021). Saat ini azimat masih marak digunakan oleh masyarakat dalam bentuk penglaris dagangan, perlindungan dari makhluk gaib, dan untuk pengobatan. Azimat terkini ada yang masih dibuat dengan cara tradisional dan harus diperoleh dengan cara sakral, dan ada pula yang dapat dibeli melalui toko online.
Azimat telah menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Bugis-Makassar selama berabad-abad. Praktiknya sangat bervariasi, mulai dari penggunaan untuk perlindungan hingga mempengaruhi keberuntungan seseorang (Arafah, 2021). Penelitian ini menemukan bahwa azimat Bugis-Makassar, seperti Naga Sikoi, masih digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk bisnis, pernikahan, dan kesehatan.
Penggunaan dan Praktik Azimat di Masyarakat
Azimat Naga Sikoi, misalnya, sering disimpan di rumah atau toko untuk menolak bala dan menarik keberuntungan. Simbol naga pada azimat ini dipercaya melindungi dari serangan mistis dan memastikan rezeki mengalir terus menerus (Wawancara, SM, 2021). Naga sikoi tidak hanya populer di Bugis Makassar, di daerah Polewali Mandar, Sulawesi Barat, masyarakat Mandar juga meyakini bahwa azimat ini mampu meningkatkan pamor atau kharisma seseorang, terutama di kalangan pedagang dan perantau (Wawancara, AI, 2017). Bentuk azimat ini biasanya berupa tulisan dengan simbol-simbol naga yang diukir atau dilukis pada media kain, kulit kambing, atau kertas khusus.
Tujuan Penggunaan Azimat
- Perlindungan Fisik dan Gaib: Salah satu fungsi utama azimat adalah untuk melindungi pemiliknya dari gangguan fisik dan spiritual. Sebagai contoh, para perantau Bugis yang berangkat ke negeri orang sering kali membawa azimat ini sebagai pelindung dari bahaya selama perjalanan (Wawancara, NB, 2021).
- Meningkatkan Pamor dan Kesuksesan: Azimat seperti Naga Sikoi juga digunakan untuk meningkatkan aura dan pamor seseorang. Para pedagang atau pejabat lokal kerap menggunakannya untuk menarik keberuntungan dan memenangkan persaingan. Dengan cara ini, azimat juga berperan dalam meningkatkan rasa percaya diri pemiliknya (Wawancara, M, 2021).
- Pagar Gaib untuk Rumah atau Usaha: Selain untuk individu, azimat dapat digunakan sebagai pelindung bagi bangunan seperti rumah atau toko. Azimat ini dipercaya mampu menjadi pagar gaib yang menghalangi energi negatif dan sihir (Manuskrip Sakke Rupa, 2024).
- Mendatangkan Rezeki dan Kesuksesan Usaha: Masyarakat Bugis-Makassar percaya bahwa azimat dapat menarik rezeki yang tidak disangka-sangka. Oleh karena itu, azimat seperti Naga Sikoi sering disimpan di tempat usaha atau dalam laci uang untuk menjadi “magnet uang” (Wawancara, M, 2021).
- Pengasihan dan Jodoh: Fungsi lain dari azimat adalah untuk membantu pemiliknya dalam hal asmara, baik itu meningkatkan daya tarik terhadap lawan jenis atau memperkuat hubungan. Beberapa azimat digunakan khusus untuk membuka pintu jodoh bagi mereka yang kesulitan mendapatkan pasangan (Wawancara, AI, 2017).
- Kesehatan dan Pengobatan: Penggunaan azimat dalam budaya Bugis-Makassar juga banyak yang terkait dengan kesehatan. Temuan lapangan menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama azimat adalah sebagai sarana penyembuhan atau pengobatan. Kepercayaan ini berakar pada keyakinan bahwa penyakit sering kali disebabkan oleh gangguan dari makhluk halus atau energi negatif. Dalam konteks ini, azimat berfungsi sebagai penangkal atau sarana untuk memulihkan kesehatan melalui kekuatan spiritual. Dalam naskah-naskah Lontarak, azimat digunakan sebagai alat bantu pengobatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, baik fisik maupun non-fisik. Misalnya, azimat yang disebut Jappi-Jappi atau mantra pengobatan sering kali digunakan untuk mengatasi gangguan kesehatan yang berulang. Mantra tersebut diubah menjadi azimat yang dapat dibawa atau disimpan oleh pasien untuk perlindungan berkelanjutan (Manuskrip Sakke Rupa, 2024). Azimat digunakan dalam beberapa pengobatan seperti :
- Penyembuhan Penyakit Fisik: Salah satu fungsi utama azimat adalah untuk menyembuhkan penyakit fisik. Masyarakat Bugis-Makassar percaya bahwa beberapa penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan energi atau gangguan dari makhluk halus. Azimat yang dibuat dengan mantra khusus digunakan untuk menyeimbangkan kembali energi tubuh dan menghilangkan gangguan tersebut (Manuskrip Sakke Rupa, 2024).
- Mengatasi Gangguan Psikis: Selain penyakit fisik, azimat juga digunakan untuk mengatasi gangguan mental atau emosional yang dianggap sebagai hasil dari sihir atau gangguan gaib. Sanro atau dukun sering kali merapalkan mantra dan mengubahnya menjadi azimat untuk diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan psikis, seperti rasa gelisah, depresi, atau serangan panik (Manuskrip Sakke Rupa, 2024).
- Perlindungan dari Penyakit yang Berulang: Pada praktiknya, azimat juga sering diberikan kepada orang yang rentan terhadap penyakit berulang atau kronis. Misalnya, azimat dengan mantra perlindungan dibuat dalam bentuk tulisan atau simbol yang dibawa pasien sebagai penjaga agar penyakit tersebut tidak kembali (Manuskrip Sakke Rupa, 2024). Beberapa azimat bahkan direndam dalam air dan diminum oleh pasien sebagai bagian dari proses penyembuhan.
- Penangkal Gangguan Energi Negatif: Dalam kepercayaan masyarakat Bugis-Makassar, energi negatif bisa menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, azimat digunakan untuk menolak energi negatif yang bisa menyerang tubuh. Salah satu azimat yang terkenal untuk tujuan ini adalah Jalejale ghaibe, yang dianggap dapat menangkal segala bentuk serangan mistis yang dapat mempengaruhi kesehatan (Manuskrip Sakke Rupa, 2024).
Foto yang menjadi penyerta di atas, adalah contoh gambar azimat yang sering digunakan untuk tujuan kesehatan, seperti Jalejale ghaibe yang berfungsi untuk melindungi dari gangguan mistis:
Proses Pembuatan dan Penggunaan Azimat
Proses pembuatan azimat sangat bergantung pada keahlian para sanro (dukun) atau pattareka (ahli spiritual) yang membuatnya. Mereka biasanya menggunakan bahan-bahan alami seperti kulit hewan atau kertas bergaris, serta menulis mantra-mantra khusus yang disesuaikan dengan tujuan si pemilik. Ritual khusus juga dilakukan selama pembuatan azimat untuk “mengisi” azimat dengan kekuatan gaib. Dalam praktiknya, azimat diberikan kepada pemilik setelah melalui proses pemilihan hari yang baik sesuai kalender tradisional Bugis, yang dikenal sebagai kutika, untuk memastikan keampuhannya Saat azimat digunakan, pemilik biasanya melakukan serangkaian ritual atau doa, seperti yang diilustrasikan dalam mantra keluar rumah: “Malaika kiraman kaatibiina ya’lamuuna maa taf’aluun, Salimurika esso wenni, barakka Laa Ilaha Illallah”. Doa ini menjadi semacam mantra yang mengaktifkan fungsi azimat untuk melindungi pemiliknya selama mereka bepergian atau melakukan aktivitas sehari-hari (Manuskrip Sakke Rupa, 2024).
Proses Pembuatan dan Penggunaan Azimat untuk Kesehatan
Proses pembuatan azimat kesehatan tidak jauh berbeda dengan pembuatan azimat untuk perlindungan atau kesuksesan. Biasanya, sanro atau tokoh spiritual menuliskan mantra pada media tertentu seperti kertas atau kain, yang kemudian dilipat dan dibawa oleh pasien. Selain itu, azimat juga bisa digantungkan di rumah atau tempat tidur pasien sebagai sarana perlindungan. Sanro akan memilih hari yang baik menggunakan kalender tradisional kutika untuk memastikan efektivitas azimat. Sebelum menggunakan azimat, pasien atau keluarganya biasanya melakukan ritual khusus atau merapalkan doa-doa tertentu yang diajarkan oleh sanro. Ini bertujuan untuk mengaktifkan kekuatan azimat dan memaksimalkan manfaatnya dalam proses penyembuhan (Wawancara, DR, 2021). Kepercayaan pada azimat sebagai sarana pengobatan masih kuat di beberapa komunitas tradisional. Meskipun praktik ini sering kali digabungkan dengan pengobatan medis modern, azimat tetap menjadi bagian penting dalam keseharian masyarakat yang percaya pada kekuatan spiritual. Bahkan dalam konteks modern, penggunaan azimat untuk kesehatan terus dipraktikkan, terutama dalam hal penyembuhan alternatif dan holistic.
Azimat dalam Kehidupan Modern
Meskipun zaman telah berubah, praktik penggunaan azimat masih bertahan hingga saat ini, terutama di kalangan masyarakat pedesaan atau mereka yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Bahkan di era modern, kepercayaan terhadap azimat tetap kuat di berbagai komunitas, terutama di Sulawesi. Seiring dengan perkembangan teknologi, beberapa orang bahkan membuat replika azimat tradisional dalam bentuk yang lebih kecil dan mudah dibawa, seperti dalam bentuk cetakan. Azimat juga ada yang dapat dibeli melalui media online dengan harga yang bervariasi (Wawancara, IS, 2021). Hal ini menunjukkan bagaimana azimat bertransformasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini, tetapi tetap mempertahankan esensi spiritualnya.
Kesimpulan
Azimat dalam tradisi Bugis-Makassar memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi. Tidak hanya digunakan untuk perlindungan fisik dan metafisik, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan keyakinan terhadap kekuatan alam. Melalui penelitian ini, diharapkan pemahaman tentang praktik azimat dapat dilestarikan dan dipahami sebagai bagian dari kearifan lokal yang masih relevan hingga saat ini.
Referensi
- Amir, M. (2017). Gerakan Petta Barang di Daerah Bugis pada 1906-1913. Al-Qalam, 23(2).
- Arafah, S. (2021). Harmoni Agama dan Budaya Bugis dalam Tiga Praktik Pengobatan Tradisional pada Naskah Tah {\=\i}lul Faw{\=a}id. Jurnal Lektur Keagamaan, 19(1), 307–340.
- Riza, Y. (2021). Sejarah Praktik Penggunaan Mantra Dalam Masyarakat Kerinci berdasarkan naskah tambo dan Kitab Azimat Kerinci. Majalah Ilmiah Tabuah: Talimat, Budaya, Agama Dan Humaniora, 25(2), 95–101.
- Subair, M., & Rismawidiawati. (2019). Bugis Culinary Among The Religious Text in The Manuscript of Sakke Rupa Bone. International Seminar on Culinary Practices in Wallasea Line: Cultural, Historical and Socio Economic Perspectives, 1–12.
- Zainal, H., Resad, I. S. M., Arshad, K. A. B., Asbulah, L. H., Ahmad, M., Abdullah, M. N., Mujani,W. K., Arifin, Z., & Mohamed, Z. (n.d.). Understanding Humanity in Nusantaras Works of Literature: Geocriticism Analysis to Serat Centhini, La Galiga, and Tuhfat al-Nafis.
