
Klaten, 10-16 September 2025
Setelah sukses menjelajahi Kebumen, Magelang, dan Temanggung, Komisariat Daerah (Komda) Jawa Tengah dari Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) kembali mengukir jejaknya. Kali ini, kota Klaten yang dikenal sebagai “Kota Seribu Candi” dan “Kota Seribu Umbul” menjadi tuan rumah pameran Aksara Gata. Acara ini bukan sekadar pameran, melainkan sebuah perhelatan budaya yang berupaya menghidupkan kembali warisan luhur yang selama ini tersembunyi dalam prasasti, naskah, dan relief. Bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata setempat, PAEI Komda Jateng ingin menunjukkan bahwa aksara nusantara bukanlah sekadar relik masa lalu, melainkan bagian vital dari identitas bangsa.
Pameran Aksara Gata di Klaten merupakan sebuah festival pengetahuan yang komprehensif. Ini adalah upaya untuk membawa aksara keluar dari ruang-ruang perpustakaan dan laboratorium penelitian, dan menyajikannya langsung kepada masyarakat dalam format yang interaktif dan menarik. Rangkaian kegiatan yang diselenggarakan sangat beragam, mencakup pameran itu sendiri, lokakarya membaca dan menulis aksara kuno, sarasehan, hingga pelatihan membatik aksara. Setiap kegiatan dirancang untuk memberikan pengalaman yang holistik, di mana pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga berinteraksi dan memahami.
Di tengah hiruk pikuk pameran, pengunjung dapat menemukan koleksi-koleksi berharga yang menceritakan perjalanan aksara. Beberapa di antaranya merupakan koleksi pribadi masyarakat, sebuah bukti nyata bahwa warisan budaya ini masih hidup dan dijaga oleh individu-individu yang peduli. Kehadiran koleksi pribadi ini bukan hanya menambah kekayaan pameran, tetapi juga menegaskan salah satu tujuan utama acara ini: mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam melestarikan warisan leluhur. Ketika masyarakat merasa memiliki, mereka akan lebih tergerak untuk menghargai dan menjaga.

Salah satu sesi yang paling dinanti adalah lokakarya membaca dan menulis aksara kuno. Di sini, para ahli epigrafi dari PAEI dengan sabar membimbing peserta, mulai dari anak-anak sekolah dasar hingga orang dewasa, untuk memahami goresan-goresan aksara yang dahulu digunakan oleh nenek moyang mereka. Ada sensasi unik saat jari-jari menelusuri lekukan aksara Jawa Kuno atau Pallawa, seolah-olah sedang menjalin komunikasi langsung dengan masa lalu. Ini adalah jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan sejarah yang terkubur, menjadikannya relevan dan hidup kembali.
Selain itu, PAEI juga mengadakan sesi berbagi cerita sejarah dengan anak-anak. Melalui narasi yang ringan dan interaktif, anak-anak diajak untuk mengenal tokoh-tokoh sejarah dan peristiwa-peristiwa penting yang tercatat dalam prasasti. Pendekatan ini sangat efektif karena membuat sejarah tidak lagi terasa membosankan, melainkan sebuah petualangan yang seru dan penuh misteri. Pameran ini juga menyajikan aktivitas unik seperti belajar membatik dengan motif aksara, menggabungkan dua warisan budaya Indonesia dalam satu kreasi yang indah. Aktivitas ini mengajarkan bahwa aksara bukan hanya tentang tulisan, tetapi juga dapat menjadi elemen visual dalam seni dan kerajinan.
Puncak dari rangkaian acara adalah sarasehan, sebuah forum diskusi yang mempertemukan para ahli, sejarawan, akademisi, dan masyarakat umum. Diskusi ini membuka wawasan tentang pentingnya pelestarian aksara, tantangan yang dihadapi, dan solusi yang bisa diterapkan. Sarasehan ini menjadi ruang bagi pertukaran ide, memicu kesadaran kolektif tentang betapa berharganya aksara nusantara sebagai bagian dari identitas nasional. PAEI percaya bahwa pameran dan kegiatan edukatif ini adalah langkah awal yang krusial. Dengan aktif menggelar acara di berbagai kota, mereka ingin memastikan bahwa kekayaan aksara nusantara tidak pudar ditelan zaman.
Pameran Aksara Gata di Klaten bukan hanya sekadar acara, melainkan sebuah gerakan pelestarian. Ini adalah upaya kolektif untuk membangun kesadaran bahwa aksara adalah cermin peradaban. Ia merekam pemikiran, kepercayaan, dan cerita para leluhur. Dengan menjaga aksara, kita juga menjaga jejak peradaban yang telah membentuk kita. Klaten, dengan pameran ini, telah membuktikan dirinya sebagai kota yang tidak hanya kaya akan tradisi, tetapi juga berani merangkul masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih kokoh.

