Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan setempat, terus berupaya melestarikan kekayaan intelektual bangsa dalam bentuk naskah kuno atau manuskrip. Kegiatan pelestarian tersebut dilaksanakan oleh Bidang Pelestarian Koleksi Nasional dan Naskah Kuno dengan fokus pada kegiatan verifikasi dan digitalisasi naskah.
Proses ini didukung oleh ahli manuskrip yang direkomendasikan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), yakni Suryan Masrin, yang juga menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) Komisariat Daerah Sumatera dan Kalimantan (SUMKAL). Kehadiran beliau diharapkan dapat memperkuat validitas kajian serta penanganan terhadap naskah-naskah tersebut.
Menurut Kepala Bidang Pelestarian Koleksi Nasional dan Naskah Kuno, Erza, kegiatan verifikasi dan digitalisasi sejauh ini telah dilakukan di dua wilayah kecamatan, yaitu Parittiga dan Tempilang. Selanjutnya, tim akan melanjutkan proses yang sama di Kecamatan Kelapa sebagai bagian dari rencana jangka menengah.

“Harapan kami, naskah-naskah kuno yang tersebar di wilayah Bangka Barat dapat terjaga dan terawat dengan baik. Verifikasi dan digitalisasi ini merupakan langkah awal agar informasi berharga yang terkandung di dalamnya tidak hilang karena usia maupun kerusakan lingkungan,” ujar Erza.
Ia juga menambahkan bahwa hingga saat ini terdapat kurang lebih 50 naskah kuno yang telah terdaftar di Perpusnas. Naskah-naskah tersebut kini menjadi prioritas utama dalam proses digitalisasi sebagai bagian dari langkah pelestarian jangka panjang.
Sementara itu, Suryan Masrin menjelaskan bahwa hasil verifikasi menunjukkan bahwa mayoritas naskah mengandung kandungan keilmuan yang berkaitan dengan fikih, tauhid, serta sejumlah teks pengobatan tradisional berupa jampi dan azimat. Beberapa naskah bahkan memuat karya penting dari ulama-ulama besar Nusantara seperti Syekh Abdul Samad al-Palimbani dari Palembang dan Syekh Abdurrahman Siddik dari Kalimantan Selatan.
Lebih lanjut, Suryan menyampaikan bahwa kegiatan ini juga merupakan bagian dari agenda kerja PAEI Komisariat Sumatera dan Kalimantan, yang bertujuan mendukung pelestarian manuskrip Nusantara melalui kerja sama lintas lembaga dan komunitas. Dengan pelaksanaan kegiatan ini, diharapkan naskah-naskah kuno di Bangka Barat tidak hanya terlindungi, tetapi juga dapat diakses secara digital sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya nasional.

