Acara PAEI INSIDER yang bertajuk “Pengenalan Epigrafi bagi Mahasiswa Rumpun Sosial Humaniora” berlangsung pada hari Jumat, 14 Maret 2025, bertempat di Gedung Art Center Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip). Kegiatan ini dimulai pada pukul 09.00 hingga 11.00 WIB dan diselenggarakan sebagai sebuah kuliah umum yang bertujuan memperkenalkan ilmu epigrafi kepada mahasiswa FIB Undip, khususnya bagi mereka yang berasal dari Program Studi Sejarah dan Sastra Indonesia. Acara ini tidak hanya menghadirkan pengetahuan baru, tetapi juga bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa terkait dengan pentingnya pemahaman tentang ilmu epigrafi dalam konteks peradaban Indonesia.

Epigrafi, yang merupakan cabang ilmu arkeologi, memiliki fokus utama pada kajian aksara kuno yang terukir pada prasasti. Ilmu ini juga mencakup upaya untuk menafsirkan dan mengungkap makna dari tulisan yang terdapat pada prasasti tersebut. Prasasti sendiri merujuk pada tulisan yang terukir di atas berbagai jenis media keras, seperti batu, logam, tanduk kerbau, bambu, atau kayu. Tulisan ini biasanya berisi informasi yang sangat bernilai terkait dengan sejarah dan perkembangan suatu peradaban. Dalam pemaparan yang disampaikan oleh Dr. Siti Maziyah, beliau menekankan bahwa epigrafi memiliki peran yang sangat penting dalam membuka tabir sejarah Indonesia, serta membantu memperbaiki persepsi dunia internasional tentang peradaban Nusantara. Penelitian epigrafi Nusantara telah berkembang sejak perempat ke tiga abad 18, disiplin ini telah memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman akan identitas budaya Indonesia.

Sesi selanjutnya dalam acara tersebut diisi oleh Goenawan A. Sambodo, S.S., M.T., yang membahas topik mengenai Fotogrametri dan Pengolahan Citra dalam Pendokumentasian Cagar Budaya. Fotogrametri sendiri adalah sebuah teknik yang digunakan untuk memperoleh informasi geometri objek dengan cara pemotretan digital. Teknik ini sangat penting dalam konteks pendokumentasian cagar budaya, terutama dalam hal pengambilan citra 3D dari prasasti atau benda bersejarah lainnya. Keuntungan utama dari penggunaan fotogrametri dalam pendokumentasian cagar budaya adalah kemampuannya untuk mendapatkan citra yang sangat rinci tanpa harus melakukan kontak langsung dengan objek tersebut, sehingga dapat mengurangi risiko kerusakan fisik pada benda bersejarah yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Dalam kesempatan tersebut, Goenawan juga menyitir salah satu pemikiran dari Prof. Kayam yang menyatakan, “Ilmu modern, baik ilmu sosial, humaniora, atau ilmu apa saja, tidak akan mampu maju manakala ia mengkotakkan dirinya sendiri.” Pernyataan ini mengingatkan kita tentang pentingnya keterbukaan dalam menjelajahi dan mempelajari berbagai disiplin ilmu. Dengan berkembangnya teknologi, mahasiswa diharapkan tidak hanya terfokus pada bidang studi utama mereka, tetapi juga dapat mengenal dan memanfaatkan bidang ilmu lain yang dapat mendukung perkembangan pengetahuan yang mereka tekuni.
Di sesi praktik, mahasiswa diperkenalkan dengan aplikasi untuk membuat obyek 3D, sebuah aplikasi yang berguna untuk melihat detail tulisan pada benda-benda arkeologi secara digital. Aplikasi ini membantu mahasiswa untuk mempelajari dan menganalisis tulisan kuno yang terdapat pada prasasti dengan lebih mendalam, sehingga memperkaya pemahaman mereka terhadap cara membaca dan menginterpretasikan prasasti yang ada.
Melalui pengenalan terhadap epigrafi dan teknik fotogrametri dalam acara ini, diharapkan mahasiswa semakin menyadari betapa pentingnya pelestarian sejarah dan budaya Indonesia. Pengetahuan tentang epigrafi serta teknik digitalisasi seperti fotogrametri memberikan mahasiswa keterampilan yang sangat berharga untuk menghadapi tantangan akademik dan profesional di bidang sejarah, arkeologi, serta studi kebudayaan di masa depan. Sebagai kesimpulan, acara ini menegaskan bahwa epigrafi bukan hanya berkaitan dengan kajian sejarah kuno, tetapi juga merambah ke ranah teknologi modern, yang memainkan peran penting dalam upaya pelestarian warisan budaya Indonesia.
