Nuzulur Ramadhona, M.Hum
Paei Komda Sumatera Dan Kalimantan
Teras
Aksara Ulu merupakan warisan budaya masyarakat Sumatera Selatan yang memiliki peran penting sebagai sarana komunikasi tertulis sejak abad ke-12 hingga abad ke-19 Masehi. Aksara ini digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti pencatatan hukum adat, penulisan naskah sastra, syair, doa, mantra, strategi perang, dan ilmu pengobatan tradisional. Penelitian terhadap artefak yang ditemukan, baik di masyarakat lokal maupun di lembaga internasional seperti British Library, menunjukkan kekayaan literasi masyarakat masa lalu. Namun, arus modernitas menyebabkan penggunaan Aksara Ulu mengalami kemunduran akibat dominasi aksara latin. Kendati demikian, pemanfaatan teknologi digital membuka peluang revitalisasi Aksara Ulu, salah satunya melalui pengembangan font digital yang mempermudah akses dan penggunaan aksara ini di berbagai platform modern. Tulisan ini akan menginformasikan upaya pengembangan font Aksara Ulu berbasis teknologi sebagai langkah strategis dalam mendukung pelestarian aksara tradisional di tengah perkembangan globalisasi.
Pendahuluan
Aksara Ulu merupakan salah satu peninggalan budaya yang menjadi identitas masyarakat Sumatera Selatan, khususnya di wilayah huluan. Aksara ini telah berperan sebagai sarana komunikasi tertulis yang melestarikan nilai-nilai budaya, adat istiadat, dan warisan pengetahuan lokal sejak abad ke-12 hingga abad ke-19 Masehi. Keberadaan Aksara Ulu tidak hanya mencerminkan kecerdasan intelektual masyarakat masa lalu, tetapi juga memperlihatkan dinamika perkembangan peradaban di daerah pedalaman Sumatera Selatan. Penggunaan Aksara Ulu pada masa itu mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pencatatan hukum adat, penulisan naskah sastra, syair, doa, mantra, hingga pencatatan strategi perang dan ilmu pengobatan tradisional. Dalam konteks sejarah, Aksara Ulu diyakini sebagai perkembangan dari Aksara Pallawa yang banyak digunakan dalam prasasti Kerajaan Sriwijaya, seperti Prasasti Kedukan Bukit dan Prasasti Talang Tuo (Casparis, 1975). Penyebaran Aksara Ulu meliputi daerah-daerah seperti Lahat, Pagaralam, Empat Lawang, Muara Enim, hingga Musi Rawas. Artefak berupa naskah dan prasasti yang ditulis menggunakan Aksara Ulu hingga kini masih dapat ditemukan di tangan masyarakat, museum, dan bahkan tersimpan di luar negeri seperti di British Library, London, serta Universitas Leiden, Belanda (Gallop, 2019).
Namun, seiring dengan arus modernitas dan globalisasi, penggunaan Aksara Ulu mengalami kemunduran yang signifikan. Perubahan pola komunikasi masyarakat yang lebih mengadopsi aksara latin sebagai standar global menjadi salah satu penyebab utama terpinggirkannya aksara tradisional ini. Generasi muda mulai kehilangan keterkaitan dengan aksara leluhur mereka, sehingga pemahaman dan keterampilan membaca serta menulis Aksara Ulu semakin berkurang. Jika situasi ini terus berlanjut, dikhawatirkan Aksara Ulu akan lenyap dan hanya tersisa sebagai artefak sejarah yang mati tanpa makna (Sobri, 2015).
Kendati demikian, modernitas juga membuka peluang baru bagi revitalisasi Aksara Ulu. Teknologi informasi dan komunikasi memberikan ruang untuk memperkenalkan kembali aksara ini kepada masyarakat luas melalui platform digital. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah pengembangan font Aksara Ulu yang dapat digunakan dalam perangkat lunak pengolah kata. Font ini menjadi jembatan penting untuk menghubungkan warisan masa lalu dengan kebutuhan era modern, sehingga Aksara Ulu dapat diadaptasi ke dalam berbagai media tulis kontemporer. Pengembangan font digital ini memungkinkan aksara tradisional tersebut lebih mudah diakses, dipelajari, dan digunakan dalam pembuatan dokumen, publikasi, serta konten digital lainnya, sehingga memperluas jangkauan penggunaannya di tengah masyarakat modern (Kozok, 2019).
Selain itu, pemanfaatan teknologi juga terlihat dalam pembuatan aplikasi pembelajaran interaktif, pengenalan aksara melalui media sosial, hingga penyelenggaraan lokakarya daring. Inisiatif ini tidak hanya memperluas aksesibilitas terhadap Aksara Ulu, tetapi juga membangun kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan budaya lokal. Dengan adanya penggabungan antara kearifan lokal dan teknologi modern, khususnya pengembangan font Aksara Ulu, diharapkan Aksara Ulu dapat kembali hidup dalam kehidupan masyarakat Sumatera Selatan dan mampu bersaing di tengah dominasi aksara global (Amelia, 2021).
Pembahasan
Perkembangan Aksara Ulu
Tradisi tulis menulis di wilayah Sumatera Selatan telah dikenal sejak abad ke-7 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan penemuan prasasti Kedukan Bukit (683 M) dan prasasti Talang Tuo (684 M), yang ditemukan di sekitar Palembang. Prasasti tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah ini telah mengenal budaya literasi dan administrasi yang maju pada masa itu, terutama di bawah pengaruh Kerajaan Sriwijaya (Casparis, 1975). Tradisi tulis ini kemudian terus berkembang dan melahirkan aksara-aksara lokal, salah satunya adalah Aksara Ulu, yang menjadi ciri khas masyarakat pedalaman Sumatera Selatan.
Aksara Ulu merupakan aksara tradisional yang berkembang di daerah hulu sungai atau wilayah pedalaman Sumatera Selatan. Istilah “Ulu” sendiri merujuk pada daerah hulu atau bagian atas sungai, karena aksara ini memang banyak digunakan oleh masyarakat yang bermukim di daerah tersebut, seperti Lahat, Pagaralam, Empat Lawang, Muara Enim, Musi Rawas, dan wilayah sekitarnya (Sobri, 2015). Aksara Ulu merupakan turunan dari Aksara Pallawa yang digunakan dalam prasasti-prasasti masa Kerajaan Sriwijaya. Diperkirakan, Aksara Ulu mulai berkembang sejak abad ke-12 Masehi dan mencapai puncak penggunaannya pada abad ke-15 hingga abad ke-19 Masehi.
Temuan artefak berupa naskah dan prasasti dengan Aksara Ulu menjadi bukti nyata keberadaan tradisi tulis di daerah pedalaman Sumatera Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat huluan Sumatera Selatan telah memiliki tingkat intelektual yang tinggi serta sistem komunikasi tertulis yang kompleks. Dalam perkembangan selanjutnya, tradisi penulisan Aksara Ulu juga mengalami adaptasi sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.
Aksara Ulu memiliki ciri khas berupa bentuk huruf yang meruncing menyerupai paku, dan dikenal dengan berbagai sebutan lokal, seperti Aksara Basemah, Aksara Ogan, Aksara Enim, Aksara Komering, Aksara Baghi, dan Serat Ulu. Beragamnya penyebutan ini disebabkan oleh perbedaan dialek dan latar belakang etnis di wilayah Sumatera Selatan. Kendati demikian, secara fundamental, aksara-aksara ini memiliki kesamaan bentuk dasar yang mencerminkan satu kesatuan sistem aksara yang dikenal sebagai Aksara Ulu (Sobri, 2015). Bentuk-bentuk variasi aksara tersebut menunjukkan dinamika perkembangan Aksara Ulu yang dipengaruhi oleh keberagaman masyarakat pengguna aksara tersebut.
Penelitian menemukan bahwa penyebaran Aksara Ulu cukup merata di daerah huluan Sumatera Selatan, antara lain di Lahat, Pagaralam, Empat Lawang, Muara Enim, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, Lubuklinggau, Prabumulih, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu Selatan, Banyuasin, dan Ogan Ilir. Penyebaran ini memperlihatkan bahwa tradisi literasi berbasis Aksara Ulu telah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat pedalaman Sumatera Selatan selama berabad-abad. Pemanfaatan Aksara Ulu yang meluas tersebut juga menunjukkan adanya jaringan komunikasi antarwilayah di Sumatera Selatan yang memperkuat identitas budaya setempat.
Perkembangan Aksara Ulu juga dipengaruhi oleh hubungan sosial dan perdagangan di wilayah pedalaman yang memungkinkan adanya pertukaran informasi dan budaya antar komunitas. Dalam konteks ini, Aksara Ulu tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi lokal, tetapi juga menjadi simbol integrasi budaya masyarakat pedalaman Sumatera Selatan yang memiliki latar belakang etnis yang beragam. Eksistensi Aksara Ulu hingga abad ke-19 Masehi menunjukkan bahwa tradisi tulis menulis telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat huluan dan menjadi salah satu pilar peradaban lokal di Sumatera Selatan.
2. Media Tulis Aksara Ulu
Adanya temuan-temuan artefak Aksara Ulu baik berupa naskah dan prasasti yang tersimpan di kalangan masyarakat, kantor balai desa, lembaga pemerintahan seperti di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), dan bahkan artefak Aksara Ulu juga tersimpan di luar negeri seperti di British Library, London, Inggris. Keberadaan artefak-artefak ini menjadi bukti konkret bahwa Aksara Ulu telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pedalaman Sumatera Selatan pada masa lalu (Sulaiman, 1981).
Dari hasil penelitian terhadap temuan artefak tersebut, diketahui bahwa leluhur masyarakat Sumatera Selatan menggunakan berbagai macam bahan atau media tulis dalam menulis ungkapan, pemikiran, ide, gagasan, ilmu pengetahuan, hukum adat, upacara, hingga nasihat dalam tulisan Ulu (Ravico & Sofiarini, 2019). Media tulis yang digunakan mencerminkan kreativitas masyarakat pada masa itu dalam memanfaatkan sumber daya alam sekitar. Adapun media tulis tersebut antara lain sebagai berikut:
- Tanduk
Tanduk yang digunakan sebagai media tulis berasal dari tanduk hewan seperti tanduk kerbau dan tanduk kambing. Pemilihan tanduk sebagai media tulis bukan tanpa alasan, tanduk yang digunakan biasanya berasal dari hewan yang telah tua karena memiliki tekstur yang lebih keras dan kokoh. Teknik penulisan pada tanduk dilakukan dengan cara menggores permukaan tanduk menggunakan benda tajam seperti pisau atau paku. Media tanduk ini umumnya digunakan untuk menulis mantra, petuah, atau catatan penting yang bersifat sakral karena sifat tanduk yang tahan lama dan dianggap memiliki nilai magis.
Gambar 1. Naskah Tanduk Beraksra Ulu
- Bambu
Bambu merupakan media tulis yang cukup umum digunakan dalam tradisi Aksara Ulu. Bambu yang digunakan dipilih dari bambu tua dengan permukaan yang halus dan licin agar mudah ditulisi. Penggunaan bambu muda cenderung dihindari karena mudah lapuk dan rentan dimakan serangga. Penulisan pada bambu dilakukan dengan teknik menggores permukaan bambu menggunakan pisau kecil atau besi runcing. Media bambu ini terdiri atas dua jenis, yakni bambu bulat utuh atau gelondongan yang dikenal sebagai “surat boloh” dan bilah-bilah bambu yang disebut “gelumpai.” Surat boloh biasanya digunakan untuk mencatat peristiwa adat, hukum, atau surat pribadi, sedangkan gelumpai lebih sering berisi petuah atau doa.
Gambar 2. Naskah Bambu Beraksara Ulu
- Kulit Kayu (Kaghas)
Kulit kayu atau kaghas merupakan media tulis yang terbuat dari kulit pohon, khususnya kulit pohon halim yang masih muda karena memiliki serat yang lebar dan lentur sehingga mudah dilipat. Menurut penelitian sarjana Barat, jenis kayu yang sering digunakan adalah kayu bunut (Calophyllum spp.) yang memiliki kulit tebal dan berserat banyak. Kulit kayu ini diolah sedemikian rupa sehingga menyerupai lembaran kertas yang dapat dilipat seperti buku lipat atau akordeon. Penulisan pada kulit kayu dilakukan menggunakan alat tulis dari lidi enau yang dicelupkan dalam tinta yang terbuat dari getah kayu leban (Vitex pubescens), buah hitam kembang seribu, atau jelaga yang dicampur dengan putih telur. Media kaghas ini umumnya digunakan untuk mencatat syair, kisah sejarah, hingga mantra pengobatan.
Gambar 3. Naskah Ulu Pada Media Kulit Kayu
- Kertas Eropa
Seiring masuknya kolonial Belanda ke Nusantara pada abad ke-19, penggunaan kertas Eropa mulai dikenal masyarakat Sumatera Selatan. Kertas menjadi alternatif media tulis yang lebih praktis dibandingkan bahan tradisional sebelumnya. Pada masa ini, Aksara Ulu mulai dituliskan menggunakan pensil dan tinta. Namun, beriringan dengan peralihan media ini, penggunaan Aksara Ulu justru mulai mengalami kemunduran. Generasi muda mulai beralih kepada aksara Latin yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial, sehingga kemampuan membaca dan menulis Aksara Ulu perlahan mulai ditinggalkan.
Gambar 4. Naskah Ulu dalam Media Kertas Eropa
Selain media tulisan yang telah disebutkan, ditemukan pula penggunaan media lain dalam tradisi penulisan Aksara Ulu, seperti kayu, batu, lontar, rotan, daluang, dan kulit hewan. Beragamnya media tulis yang digunakan mencerminkan kekayaan budaya literasi masyarakat pedalaman Sumatera Selatan serta keterampilan mereka dalam mengolah bahan-bahan alami menjadi sarana komunikasi tertulis.
Keberagaman media tulis ini juga menggambarkan bagaimana masyarakat pedalaman Sumatera Selatan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi geografis dan sumber daya alam yang tersedia. Setiap media memiliki fungsi dan nilai tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, tanduk dan bambu sering kali digunakan untuk catatan yang bersifat pribadi atau sakral, sedangkan kulit kayu dan kertas lebih banyak digunakan untuk penulisan naskah panjang yang berisi ajaran atau cerita adat.
3. Digitalisasi Aksra Ulu
Melalui teknologi digital turut memberikan kontribusi yang signifikan, khususnya dalam upaya pelestarian dan pengembangan Aksara Ulu berupa pembuatan font digital Aksara Ulu atau yang dikenal juga sebagai Surat Ulu. Keberadaan font digital ini menjadi jembatan penting antara warisan budaya tradisional dengan kebutuhan modern, sehingga Aksara Ulu dapat lebih mudah diakses, dipelajari, dan digunakan oleh masyarakat luas (Universitas Bengkulu, 2019; Permata Sari & Kunang, 2020).
Upaya digitalisasi Aksara Ulu berawal dari kesadaran akan semakin punahnya kemampuan membaca dan menulis aksara tradisional ini di kalangan generasi muda Sumatera Selatan. Sebagian besar masyarakat pedalaman yang dahulu akrab dengan Aksara Ulu, kini beralih menggunakan aksara latin. Untuk mengantisipasi kepunahan tersebut, para akademisi, budayawan, dan praktisi teknologi mulai menginisiasi proses digitalisasi Aksara Ulu. Salah satu upaya nyata adalah pengembangan font digital berbasis komputer yang memungkinkan Aksara Ulu dapat ditulis dengan mudah menggunakan perangkat lunak pengolah kata (Aksara Ulu Sumsel, 2021).
Pengembangan font Aksara Ulu dilakukan dengan mengacu pada bentuk-bentuk huruf dasar yang ditemukan pada berbagai artefak seperti naskah, tanduk, bambu, dan kulit kayu. Para perancang font bekerja sama dengan ahli aksara dan sejarawan untuk memastikan keakuratan bentuk karakter huruf agar tetap sesuai dengan kaidah penulisan tradisional. Font digital ini kemudian diintegrasikan dalam sistem Unicode agar dapat digunakan secara luas di berbagai perangkat dan sistem operasi .
Font Aksara Ulu digital telah dirilis dengan berbagai variasi desain, mulai dari bentuk yang menyerupai tulisan asli pada media bambu dan tanduk, hingga bentuk yang lebih modern agar lebih mudah dibaca. Font ini dapat diunduh dan digunakan secara gratis melalui beberapa platform digital yang dikelola oleh komunitas pelestari budaya dan institusi akademik (ISRG Universitas Bina Darma, 2022).
Keberadaan font Aksara Ulu memberikan dampak yang cukup signifikan dalam upaya revitalisasi budaya literasi lokal. Masyarakat, khususnya generasi muda, mulai tertarik untuk belajar kembali tentang Aksara Ulu. Selain itu, font ini juga mulai dimanfaatkan dalam berbagai produk kreatif seperti desain grafis, poster budaya, undangan adat, hingga media pembelajaran di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi Aksara Ulu mampu menghubungkan kembali masyarakat dengan warisan budaya leluhur mereka dalam konteks kehidupan modern.
Dengan adanya font Aksara Ulu, pelestarian aksara tradisional ini diharapkan dapat terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Inovasi ini tidak hanya memperpanjang usia keberadaan Aksara Ulu, tetapi juga membuka ruang bagi kolaborasi lintas disiplin antara ahli budaya, desainer grafis, dan pengembang teknologi dalam mendukung keberlanjutan warisan budaya Sumatera Selatan.
Beberapa media yang merupakan tantangan moderintas saat ini dalam upaya digitalisasi Aksara Ulu adalah :
- Unicode
Unicode adalah standar pengkodean karakter internasional yang menetapkan nomor unik untuk setiap karakter dalam berbagai bahasa dan sistem tulisan di seluruh dunia. Dengan Unicode, hampir semua karakter dapat diakses dan ditampilkan di berbagai platform, program, dan perangkat tanpa mengalami masalah kompatibilitas. Tantangan ke depan bagi Unicode adalah bagaimana mengakomodasi aksara-aksara kuno dan langka seperti Aksara Ulu agar dapat dimasukkan dalam standar ini. Proses standardisasi membutuhkan dokumentasi yang lengkap, pengajuan formal kepada Konsorsium Unicode, serta dukungan dari komunitas akademik dan pemerintah untuk memastikan aksara ini dapat digunakan secara luas di era digital (Unicode Consortium, 2020; Bina Darma, 2022)..
- AI (Artificial Intelligence)
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) adalah teknologi yang mereplikasi kecerdasan manusia dalam sistem komputer atau perangkat mesin. AI dikembangkan dengan tujuan agar komputer dapat berpikir, belajar, dan mengambil keputusan secara mandiri seperti manusia. Dalam konteks Aksara Ulu, AI dapat berperan dalam pengenalan karakter, transliterasi otomatis, serta pengembangan font dan sistem pembelajaran berbasis AI. Tantangan utama adalah bagaimana melatih AI dengan dataset yang memadai agar dapat mengenali dan memahami Aksara Ulu dengan akurat, mengingat data historis dan referensi mengenai aksara ini masih terbatas.
- Web3
Web3 adalah konsep internet masa depan yang berbasis desentralisasi menggunakan teknologi blockchain. Dalam Web3, data pengguna tidak lagi dikendalikan oleh entitas terpusat seperti perusahaan besar, melainkan dimiliki dan dikontrol langsung oleh pengguna. Tantangan dalam implementasi Web3 terhadap aksara kuno seperti Aksara Ulu adalah bagaimana memastikan bahwa aksara ini dapat diakses dalam ekosistem digital yang lebih terbuka dan desentralisasi. Dengan teknologi NFT (Non-Fungible Token) dan smart contracts, Aksara Ulu dapat diabadikan dalam bentuk digital yang dapat didistribusikan secara luas, tetapi tetap memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai agar dapat diintegrasikan secara efektif.
Ketiga tantangan ini menjadi kunci dalam upaya melestarikan dan mengembangkan Aksara Ulu di era digital. Unicode dapat memastikan kompatibilitas global, AI dapat membantu dalam pengenalan dan pengajaran aksara ini, sementara Web3 membuka peluang baru dalam penyimpanan dan distribusi aksara secara desentralisasi (Universitas Bengkulu, 2019; Aksara Ulu Sumsel, 2021)..
Kesimpulan
Aksara Ulu merupakan aksara tradisional yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat pedalaman Sumatera Selatan di masa lalu. Berbagai artefak berupa naskah dan prasasti yang ditemukan, baik di dalam negeri maupun luar negeri, menjadi bukti nyata bahwa tradisi tulis menulis telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat huluan. Media tulis yang digunakan pun beragam, mulai dari tanduk, bambu, kulit kayu, hingga kertas Eropa, mencerminkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam sebagai sarana komunikasi tertulis.
Namun, perkembangan zaman dan masuknya aksara latin menyebabkan penggunaan Aksara Ulu mengalami kemunduran. Di era digital, pelestarian Aksara Ulu menghadapi tantangan seperti standarisasi Unicode, pengembangan teknologi AI, serta pemanfaatan Web3 untuk pendokumentasian. Oleh karena itu, sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan agar Aksara Ulu dapat terus lestari dan dikenal oleh generasi masa depan.
Referensi
- Aksara Ulu Sumsel. (2021). Aplikasi AKAS: Pembelajaran Aksara Ulu. AksarauluSumsel.id.
- Amelia, R. (2021). Digitalisasi Aksara Tradisional sebagai Upaya Pelestarian Budaya Lokal. Jurnal Budaya Nusantara, 4(2), 45-58.
- Casparis, J. G. de. (1975). Indonesian Paleography: A History of Writing in Indonesia from the Beginning to c. A.D. 1500. Leiden: Brill.
- Gallop, A. T. (2019). Malay Manuscripts in the British Library. London: British Library.
- ISRG Universitas Bina Darma. (2022). Tim ISRG Luncurkan Aplikasi Cerdas untuk Pelestarian Aksara Ulu. Sumatera Ekspres.
- Kozok, U. (2019). The Revival of Sumatran Scripts in the Digital Age. Journal of Southeast Asian Studies, 50(1), 25-46.
- Permata Sari, T., & Kunang, Y. N. (2020). Pengembangan Aplikasi Transliterasi Aksara Ulu Berbasis Web. Jurnal Processor.
- Ravico, R., & Sofiarini, A. (2019). PELESTARIAN SITUS ULAK LEBAR SEBAGAI DESTINASI WISATA SEJARAH. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Kajian Sejarah. https://doi.org/10.31540/sdg.v1i1.196
- Sobri, M. (2015). Aksara Ulu di Sumatera Selatan: Kajian Persebaran dan Fungsi Sosial. Palembang: Balai Arkeologi Sumatera Selatan.
- Sulaiman, S. (1981). Sculpture of Ancient Sumatra. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
- Universitas Bengkulu. (2019). Peneliti Unib Rampungkan Digitalisasi Aksara Ulu Kaganga. Antara News.
- Unicode Consortium. (2020). Unicode Standard: Supporting Historic Scripts. Unicode.org.
