Tyassanti Kusumo Dewanti
PAEI Komda Jateng
Teras Berita
Prasasti, sebagai benda warisan budaya, menjadi salah satu objek yang mengisi ruang-ruang museum. Objek ini memiliki karakteristik unik ditinjau dari aspek intrinsik dan ekstrinsiknya. Kendati demikian, pemajangannya di museum kerap belum memadai. Bentuk ketidakidealan tersebut, menurut observasi penulis, bisa diamati pada beberapa aspek. Lebih lanjut, penulis juga mencoba menyoroti alasan di balik ketidakidealan pemajangan, yang rupanya berkaitan erat dengan diseminasi pengetahuan maupun akses terhadap logistik pameran. Dengan demikian, diharap dapat ada alternatif solusi agar pemajangan prasasti bisa lebih mapan dan optimal.
Pembahasan
Salah satu sumber primer tekstual yang bisa dirujuk untuk mendapatkan informasi tentang masa lalu adalah prasasti. Selain yang masih terletak in situ, seperti prasasti yang dipahatkan pada batu alam besar (Prasasti Tuk Mas, Gondosuli, Sarungga, Ngrawan), atau merupakan bagian dari struktur (prasasti pendek bercat di Candi Sewu, Prambanan dan Plaosan), sejumlah besar prasasti telah berpindah konteks ke ruang pamer museum atau tempat penampungan objek arkeologis1. Dengan demikian, penempatan di konteks baru tersebut bukan hanya memfasilitasi publik akademis, tapi juga publik secara keseluruhan untuk mengakses objek ini demi berbagai kepentingan: edukatif, rekreatif maupun penelitian. Jamak diketahui bahwa kini minat terhadap bahasa maupun aksara kuno sedang cukup digandrungi. Komunitas dan konten-konten daring yang memandu pembelajaran di luar institusi resmi juga sudah mapan2.
Antusiasme publik terhadap prasasti, pada beberapa kasus, rupanya belum direspons dengan baik oleh museum. Hal ini nampak pada tidak idealnya representasi prasasti pada pemajangan di ruang pamer museum.
Studi mengenai evaluasi pemajangan atau tata pamer koleksi di museum telah banyak dilakukan. Umumnya, evaluasi ditujukan untuk satu atau beberapa institusi khusus dengan mengulasnya dari perspektif komunikasi atau agenda museum pada pengunjung3, dan tidak spesifik pada koleksi prasasti saja4. Salah satu karya babon mengenai pameran telah disusun oleh Belcher (1991), Exhibitions in Museums, yang membahas rinci tahap-tahap berpameran dan persepsi komunikasi pada pengunjung. Disebutkan beberapa elemen penting pameran, yakni: showcase, lighting, color, exhibition graphic, model, supplementary, exhibition media, pacing, dan label. Pada paparan ini, penulis membatasi amatannya dari perspektif objek pamer, yakni prasasti dari masa pengaruh kebudayaan Hindu Buddha, dan tidak membahas kasus per museum, tetapi cenderung arbitrer sesuai dengan pengalaman lapangan penulis maupun contoh-contoh yang signifikan. Dari poin-poin yang dibahas oleh Belcher, penulis hanya mengambil beberapa elemen yang relevan dengan kondisi di lapangan, seperti misal showcase, lighting, dan label. Selain itu, penulis juga menitikberatkan pada aspek langkah kerja konservasi serta riset di museum, alih-alih hanya pada perspektif pengunjung.
II. Rumusan Masalah dan Tujuan
1. Bagaimana bentuk ketidakidealan pemajangan prasasti di museum?
2. Apa saja alasan di balik ketidakidealan tersebut?
3. Bagaimana bentuk alternatif pemajangan prasasti?
Mengulas tiga isu tersebut diharap dapat memberi sumbangsih pada ruang diskusi mengenai prasasti dan pemajangannya di museum, agar di kemudian hari lebih banyak dihasilkan inovasi maupun perbaikan.
IV. Pembahasan
Ditinjau dari bentuknya, material prasasti di Indonesia cukup beragam. Prasasti-prasasti yang ditemukan di abad ke-5 sampai awal abad ke-9 M sebagian besar teksnya dipahat di batu alam, stela batu, maupun bagian dari satu arca atau bangunan. Setelahnya, teks prasasti jamak ditemui dipahat di lempeng logam. Sebagai objek arkeologis, selain bentuk dan material, prasasti dicirikan dengan karakteristik unik, yakni keberadaan teks maupun ornamen pada artefaknya. Teks prasasti bisa dipahatkan di hanya satu sisi saja, sebagian, bahkan di seluruh sisi. Menariknya lagi, terkadang teks yang dituliskan bisa multibahasa5, multiteks6, atau merupakan salinan dari suatu teks babon. Perlu dipahami juga bahwa tidak semua prasasti ditemukan dalam kondisi utuh. Temuan cukup baru, prasasti Masahar misalnya7, hanya ditemukan bagian awalnya saja.
Kondisi-kondisi seperti yang telah disebutkan di atas seharusnya menjadi acuan bagi pihak museum untuk memajang koleksi prasasti. Seluruh karakter unik harus ditampilkan, diwakili dalam elemen showcase, lighting dan label. Apabila artefak mengandung teks di keseluruhan isinya, sebaiknya jangan diletakkan dekat dengan tembok atau area yang sempit. Pemajangan demikian tidak maksimal menampilkan objek. Pengunjung yang berkeinginan untuk membaca ataupun mendokumentasi tentu akan merasa kesulitan. Kondisi ini setidaknya dijumpai di pemajangan prasasti Muncang di Museum Mpu Purwa, Malang (gb. 1). Prasasti memuat teks di keempat sisinya, tetapi dipajang dalam sebuah vitrin sempit dengan akses terbatas. Gambar dindingnya adalah hamparan sawah berwarna hijau dengan langit biru penuh awan putih, yang mengacaukan fokus pada objek karena keberadaan terlalu banyak warna. Pemajangan demikian juga membuat evakuasi dan konservasi objek lebih sulit karena ruang yang terlalu sempit. Belum lagi apabila di kemudian hari akan ada studi pembacaan baru atau upaya pembuatan model 3D, bisa dibayangkan betapa sulitnya menyiasati persoalan ruang yang sempit. Untuk pencahayaan, di dalam vitrin juga masih belum terlalu maksimal.

Sumber: Dokumentasi Eko Bastiawan
Contoh ketidakidealan lain didapati juga di pemajangan prasasti yang ditemukan dalam keadaan tidak utuh, misalnya Prasasti no. D.170 di Museum Nasional Indonesia (MNI)8. Terdapat sekitar 145 fragmen prasasti ini, yang sayangnya dicoba untuk direkonstruksi menjadi sebuah stela utuh dengan perekat. Upaya ini tentu membuat kesulitan di kemudian hari apabila ada fragmen lain yang ditemukan; rumit untuk dipasang maupun dibongkar, karena adanya perekat yang menempel antarbatu. Selain D.170, ada juga prasasti no. D.95 yang dicoba direkonstruksi dengan perekat yang justru menghilangkan beberapa aksara. Perlu dicatat bahwa sebelum ditutup, prasasti di MNI sebagian besar diletakkan di sayap utara dan selatan, dekat dengan saluran air, selokan, bahkan tidak ada pencahayaan optimal per artefaknya. Terdapat upaya leveling untuk menampilkan prasasti, tapi lapik yang dipilih juga dieksekusi tidak dengan optimal. Lapik dilapisi keramik putih biru yang sudutnya tajam, cukup membahayakan. Teknik leveling ini meniru leveling arca di bagian dalam, yang menggunakan ubin berwarna biru putih, tetapi dengan sudut yang ditumpulkan.
Untuk prasasti logam, pemajangan yang cukup ideal dapat ditemui di kantor Bugisan BPK Wil.X. Terdapat satu vitrin yang membuat prasasti logam dapat diamati teksnya dari depan maupun belakang. Namun, vitrin ini juga memiliki kerumitan sendiri untuk membukanya, karena bahan kaca yang berat dan rawan pecah. Sehingga, upaya konservasi artefak juga menjadi riskan.
Beberapa poin yang telah disebut di atas menunjukkan setidaknya dua hal: 1) kurangnya iklim ilmiah, juga produksi pengetahuan di dalam museum, 2) ketersediaan bahan yang terbatas, diikuti dana yang terbatas pula untuk pengadaan beragam media pamer. Poin no. 1 membuat informasi yang ditampilkan di label menjadi kurang akurat, pemajangan menjadi tidak optimal karena tidak akrab dengan objek prasasti, atau tidak tahu ada teks/karakter unik di bagian-bagian tertentu. Sebuah museum yang menyimpan koleksi prasasti baiknya memang memiliki kurator yang paham akan objek tersebut, sehingga bisa terus memperbarui informasi objek, atau justru melakukan riset untuk objek tersebut. Sementara, poin no. 2 membuat pemajangan nampak tidak elegan, terlalu sederhana, dan monoton. Selain memajang artefak prasasti saja, dan dengan narasi intrinsik dalam teks, sebetulnya pengelola museum juga bisa menyediakan objek pendukung lain atau narasi artefak sejak mulai berpindah konteks. Contoh objek yang bisa disandingkan adalah abklats prasasti, arsip foto lama prasasti, maupun bentuk 3D hasil pengolahan fotogrametri objek. Yang terakhir bisa ditampilkan untuk membantu menyiasati apabila ada keterbatasan ruang untuk menampilkan keseluruhan dimensi artefak.
Salah satu contoh presentasi pemajangan yang inovatif dan mengakomodasi objek, baik ekstrinsik maupun intrinsik pernah penulis jumpai di Museum Lugdunum, Lyon, Prancis. Tentu ada infrastruktur maupun sistem berbeda yang membuat mereka dapat menyajikan koleksi tersebut dengan demikian, tetapi setidaknya bisa menjadi inspirasi untuk teknis alternatif pemajangan koleksi prasasti di Indonesia. Di Lugdunum, apabila ada prasasti yang berupa fragmen, ditampilkan dengan media pamer yang mengikuti bentuknya (Gb. 2). Hal ini bisa diaplikasikan di Indonesia, tetapi harus dengan media pamer yang lebih kokoh, menyesuaikan massa artefak. Kemudian, selain memfokuskan pada bentuk, diberi juga presentasi pemajangan yang menjelaskan karakter intrinsik prasasti. Caranya adalah menembakkan transkripsi maupun ilustrasi yang menceritakan isi dari prasasti melalui proyektor. Teknik ini sangat mungkin diadaptasi di Indonesia dengan beberapa penyesuaian layout ruang museum.

Sumber: Dokumentasi Tyassanti Kusumo
V. Kesimpulan
Setelah melalui pembahasan di atas, teridentifikasi bahwa ketidakidealan pemajangan muncul di media pamer, pencahayaan, dan label koleksi prasasti. Ketidakidealan tersebut hadir karena setidaknya dua poin, kesenjangan iklim ilmiah dan akses sumber daya (pendanaan maupun penyedia barang). Apabila akar persoalan itu bisa segera terbenahi, diharap agar museum bisa semakin berinovasi memajang artefak tersebut dengan teknik beragam —yang tidak membahayakan objek, menambah nilai objek, dan memudahkan konservasi—, dan presentasi yang fokus ke artefak maupun karakter intrinsiknya.
Daftar Pustaka
- Anjar Laksita Mukti. (2022). Evaluasi Tata Pameran Museum Geoteknologi Mineral. [Skripsi]. Universitas Gadjah Mada.
- Ashar Murdihastomo, Dimas Seno Bismoko, & Rama Putra Siswantara. (2023). Tata Pamer Museum Negeri pada Masa Lalu dan Masa Kini: Studi Museum Nasional Indonesia dan Museum Sonobudoyo. Purbawidya, 12(1), 17–31.
- Belcher, Michael. (1991). Exhibitions in Museums. Leicester: Leicester University Press; Washington, D.C.: Smithsonian Institution Press.
- Damais, L.-C. (1952). Études d’épigraphie indonésienne, III: Liste des principales inscriptions datées de l’Indonesie. Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient, 46(1), 1–105. https://doi.org/10.3406/befeo.1952.5158
- Devina Ocsanda. (akan terbit). Mengomunikasikan Prasasti: Evaluasi Tata Pamer di Museum Airlangga, Museum Daerah Kabupaten Tulungagung, dan Museum Penataran. Artikel untuk SENAFI (Seminar Nasional Epigrafi) Jateng 2024.
- Goenawan A. Sambodo, Maria Tri Widayati, & Hery S. Purnawali. (2019). Peran komunitas dalam penanangan temuan baru prasasti (studi kasus Komunitas Kandang Kebo). Berkala Arkeologi, 39(1), 53–72.
- Raden Marzani. (2022). Evaluasi Tata Pamer Museum Gentala Arasy. [Skripsi]. Universitas Jambi.
- Titi Surti Nastiti, Eko Bastiawan, & Griffiths, A. (2022). Towards a corpus of inscriptions issued during Airlangga’s reign in eastern Java: A provisional inventory and four new inscriptions. Bulletin de l’École Française d’Extrême-Orient, 108, 63–216. https://doi.org/10.3406/befeo.2022.6419 (Original work published 2023)
- Misalnya, Prasasti Wurare yang dipahatkan di arca Joko Dolog. Di sini, yang dimaksud sebagai tempat penampungan objek arkeologis adalah lembaga nonmuseum, seperti dinas atau BPK, yang bertanggung jawab akan sebuah situs atau satu tempat yang menjadi lokasi pengumpulan objek-objek arkeologis dari sekitarnya. Namun, terkadang, terlepas dari bentuk lembaga maupun tempatnya, kunjungan ke tempat penampungan objek tak ubahnya juga kunjungan ke museum. Objek tetap ditempatkan dengan penataan tertentu dan ada papan informasi yang bisa diakses pengunjung, meski kerap kali lebih minim informasi atau kurang diperbarui. ↩︎
- Lihat misal Komunitas Taksaka (Magelang), Komunitas Pasinaonan Jawa Kuno (Blitar), Komunitas Jawa Kuno Sutasoma (Mojokerto), dan sebagainya. Selain belajar tata bahasa, tak jarang komunitas ini turun langsung ke lapangan untuk praktik membaca prasasti. Komunitas juga dapat berperan dalam memberi respons awal atas informasi temuan prasasti, sekaligus melakukan identifikasi. Dalam hal ini, komunitas jelas bisa dipandang sebagai agen produksi pengetahuan. Lebih lanjut, lihat Goenawan A. Sambodo dkk. (2019). ↩︎
- Lihat misal Anjar Laksita Mukti (2022), Raden Marzani (2022), Ashar Murdihastomo dkk. (2023) ↩︎
- Kecuali, misalnya, artikel Devina Ocsanda (akan terbit), yang membahas mengenai evaluasi pemajangan koleksi prasasti di Museum Airlangga, Museum Daerah Kabupaten Tulungagung dan Museum Penataran.
↩︎ - Misalnya prasasti yang menggabungkan stanza Sanskerta, kemudian isinya dalam bahasa Jawa Kuno, seperti prasasti Tlu Ron, Sugih Manek, dan Sangguran.
↩︎ - Satu artefak prasasti dengan teks lebih dari 1 bisa dijumpai di prasasti Harinjing dan Mangulihi. Sebaliknya, ada pula artefak berbeda yang isi teksnya sama, hampir sama, atau berhubungan dengan sebuah sīma atau bangunan suci yang sama. Contoh untuk yang kedua ini bisa didapati di prasasti Pananggaran dengan Sumundul, Salimar I–VI, Mantyasih I–III, dan lain-lain.
↩︎ - Prasasti ini ditemukan di Situs Gemekan, Desa Gemekan, Kec. Sooko, Kab. Mojokerto, Jawa Timur pada 2022 silam. Kini, prasasti Masahar disimpan di kantor BPK Wilayah XI. ↩︎
- Pada labelnya, prasasti ini masih dirujuk sebagai Prasasti Selorejo, yang menunjukkan toponimi desa tempat ditemukannya prasasti. Padahal, kini konsensus terbaru menyepakati bahwa prasasti sebaiknya diberi nama sesuai dengan setidaknya tiga poin berikut: toponimi pertama yang terbaca, nama tokoh pertama yang terbaca, atau nama sīma terkait.[1] Hasil penelitian terbaru oleh Titi Surti Nastiti et.al. (2022: 140–149) berhasil menemukan nama sīma yang disebut, yakni Bularut. Menurut hemat penulis, MNI sebaiknya kerap menmperbarui keterangan di label sesuai dengan penelitian terbaru, atau setidaknya mengikuti konvensi penamaan prasasti. Masih terdapat beberapa contoh prasasti yang penamaannya kurang tepat, misal prasasti no. D.36 yang disebut Prasasti Sanjayawarsa alih-alih Timbanan Wungkal, nama yang memang sudah lazim digunakan di publikasi. ↩︎
