Napak Tulis Komda Jawa Timur: Prasasti Kusambyan dan Prasasti Munggut

MENAPAK TINGGALAN TERTULIS RAJA AIRLANGGA

Giat acara Napak Tulis, sebagai bagian dari kegiatan Dana Indonesiana yang dilakukan oleh Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) Komda Jawa Timur pada Sabtu, 18 Mei 2014 dengan narasumber Ismail Lutfi & Andri Setyo Nugroho dilakukan di Situs Prasasti Kusambyan dan Prasasti Munggut, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang Jawa Timur. Kegiatan yang diikuti oleh sejumlah mahasiswa, komunitas Sejarah, guru Sejarah dan anggota PAEI Komda Jatim digelar pagi hingga siang hari di situs tersebut. Acara berupa diskusi terbuka diantara para peserta dan narasumber. Kegiatan ini memberikan informasi yang cukup penting terkait hasil penelitian terbaru dari Prasasti Kusambyan dan Prasasti Munggut.

Gunung Pucangan secara administratif terletak di Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang Jawa Timur. Dalam tradisi lisan, Gunung Pucangan dipercaya sebagai tempat pertapaan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga (Poerbatjaraka, 1968). Secara historis Gunung Pucangan memiliki makna penting bagi Raja Airlangga karena menjadi penanda kemenangan atas semua musuhnya (Brandes, 1913). Meskipun demikian, nama Pucangan sempat menuai perdebatan di kalangan para ilmuan. Mayoritas di antara mereka berpendapat bahwa Pucangan adalah nama lain dari Penanggungan (Kern, 1913; Rassers, 1922). Hal ini diperkuat dengan keberadaan patirtan Jolotundo dan toponimi Wotan yang identik dengan istana Airlangga di Wotan Mas (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1909).

Prasasti Kusambyan

Widi Widayanto, ketika melakukan pembacaan untuk tugas akhir Sarjana Arkeologi, menemukan bahwa pecahan prasasti ada sembilan fragmen (Widayanto, 2004) sehingga diperkirakan ada sekitar delapan fragmen yang hilang. Sayangnya Widayanto tidak memberi perhatian pada fragmen-fragmen yang tersisa sehingga unsur penanggalan tidak dibahas sama sekali dalam penelitiannya. Penelitian Nastiti dan timnya pada 2013 hanya menjumpai kalimat “k[ṛ]ṣṇapakṣa wu. ka. śa [wāra]” sementara angka tahun tidak berhasil ditemukan (Nastiti, 2013).

Pada tahun 2023, hasil fotogrametri yang dilakukan oleh Goenawan A. Sambodo dan Andri Setya Nugroho  terhadap semua fragmen yang tersisa dari Prasasti Prasasti Kusambyan menghasilkan data yang lebih akurat . Kajian lebih lanjut yang dilakukan terhadap Sebuah fragmen memberi informasi bahwa ditemukan  penanggalan relatif dari Prasasti Kusambyan. Pada gambar 1 terdapat kalimat “[pa]daŋ pu dwijā”. Nama tersebut juga ditemukan dalam Prasasti Cane (943 Saka atau 1021 Masehi) dan Prasasti Munggut (944 Saka atau 1022 Masehi) sebagai Rakryān Paḍaŋ. Dalam prasasti-praasti Airlangga selanjutnya, baik jabatan atau nama Pu Dwija tidak ditemukan lagi. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diduga bahwa Prasasti Kusambyan berasal dari periode awal pemerintahan Airlangga.

 

Salah satu fragmen Prasasti Kusambyan. Sumber: Goenawan A. Sambodo (2023).

Pada tahun 2022, tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan École française d’Extrême-Orient (EFEO) menerbitkan hasil penelitian mereka tentang empat prasasti baru masa Airlangga.. Dalam pembasan tentang Prasasti Kusambyan, tim peneliti menggunakan abklats yang disimpan di Universiteit Bibliothek Leiden (UBL) dan EFEO. Dari abklats tersebut mereka berhasil memperoleh unsur hari dalam Prasasti Kusambyan yaitu kṛṣṇapakṣa, wurukung, kaliwuan, raditya. Berdasarkan hal tersebut, maka tanggal turunnya perintah Airlangga untuk Desa Kusambyan adalah 13 Oktober 1023 (Nastiti, Bastiawan, & Griffiths, 2022).

Prasasti Munggut
Ukuran aksara Prasasti Munggut lebih besar jika dibandingkan dengan prasasti Airlangga yang lain. Ketika Brandes menerima abklats Prasasti Munggut 1887, ia mengatakan artefak itu berasal dari masa pemerintahan Raja Airlangga yang dikeluarkan pada 955 Saka (1033 Masehi) (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1888). Pendapat Brandes mungkin menjadi inspirasi Nicolaas Johannes Krom untuk melakukan pembacaan ulang sehingga ia memperoleh angka 954 Saka (1032 Masehi) (954 Saka) (Krom, 1931). Pada 2003 Bayu Aryanto membaca dan mengalihaksarakan Prasasti Munggut untuk tugas akhir Sarjana Arkeologi. Dalam pembacaannya, Aryanto memperoleh angka 944 Saka (1022 Masehi) (Aryanto, 2003).

Unsur penanggalan Prasasti Munggut terletak di bagian depan prasasti mulai dari baris ke-3. Adapun unsur penanggalan prasasti itu berbunyi:

  1. // O // swasti śaka wārṣātīta 944 cetra māsa tithi caturdaśi kṛṣṇa
  2. pakṣa wu. pa. Aŋ. wāra balamuk(t)i kṛtikāraṇa nakṣatra dahana dewatā Ayu[sman]
  3. yoga wanija karaṇa, … (Aryanto, 2003; Nastiti, Eriawati, Djafar, Cahyono, & Inswiardi, 2013)

Prasasti Munggut dikeluarkan pada hari keempat belas Bulan Caitra paro gelap, sadwāra (siklus minggu yang berjumlah enam) Wurukung, pañcawāra (siklus minggu yang berjumlah lima) Paniruan, saptawāra (siklus minggu yang berjumlah tujuh Anggara. Berdasarkan unsur penanggalan di atas, perintah Airlangga yang dipahatkan pada Prasasti Munggut dikeluarkan pada Selasa Pahing Wurukung tanggal 3 April 1022.

Prasasti Kusambyan dikeluarkan oleh Airlangga sebagai anugerah karena pada abad ke-11 penduduk Desa Kusambyan telah membantunya dalam peperangan melawan musuh yang bernama Si Cṅek. Nama tersebut juga ditemukan dalam Prasasti Bularut yang diresmikan Airlangga pada 31 Oktober 1042. Selain Prasasti Kusambyan, Titi Surti Nastiti, Eko Bastiawan, dan Arlo Griffiths mengasosiasikan peperangan antara Airlangga dan Si Cṅek dengan Prasasti Adulengen yang sama-sama dikeluarkan pada 945 Saka. Anugerah dalam Prasasti Adulengen diberikan kepada Dyah Kaki Adulengen karena kesetiaannya membantu Airlangga dalam melawan musuh. Tidak disebutkan nama musuh yang dihadapi Dyah Kaki Adulengen saat itu. Namun mengingat dua prasasti dikeluarkan pada tahun yang sama, ada kemungkinan keduanya saling berkaitan (Nastiti, Bastiawan, & Griffiths, 2022).

Lokasi Prasasti Kusambyan, Sungai Brantas, dan Desa Kesamben Masa Kini. Sumber: Andri Setyo Nugroho (2024).

Airlangga dalam Prasasti Kusambyan memberikan kewajiban untuk penduduk Desa Kusambyan untuk melakukan pemujaan kepada saŋ hyaŋ iwak dengan mempersembahkan berbagai jenis bunga (puṣpapañcopacāra), biji dan minyak wijen (tila, tela), dupa atau kemenyan (dhūpa), biji-bijian yang tidak dikupas (gandhākṣata), serta berbagai makanan (niwedyādi prakāra). Semua sesaji itu harus dipersembahkan kepada saŋ hyaŋ iwak setiap purnama di Bulan Asuji Masa. Figur bhaṭāra hyaŋ iwak dalam Prasasti Kusambyan yang seringkali diasosiasikan sebagai avatāra Dewa Wiṣṇu (matsya). Di dalam Kakawin Ramayāna Pupuh XXI bait 126-132, terdapat puji-pujian yang dipersembahkan kepada Wiṣṇu (Madhusūdana) berikut avatāra-nya antara lain ikan (iwak), kura-kura (kūrmma), babi hutan (warāha), dan manusia berkepala singa (narasiṅha) (Santoso, 1980). Kewajiban untuk melakukan pemujaan terhadap bhaṭāra hyaŋ iwak ini sekaligus merepresentasikan ekologi penduduk Desa Kusambyan yang tinggal di tepian Sungai Brantas. Pada gambar 4 tampak Desa Kusambyan terletak kurang lebih 10 km sebelah tenggara dari Prasasti Kusambyan. Terlebih, dengan pemujaan terhadap bhaṭāra hyaŋ iwak itu diharapkan agar menjadi sarana perbaikan segala sesuatu yang rusak (Nastiti, Bastiawan, & Griffiths, 2022).

Turunnya anugerah Airlangga untuk penduduk Desa Munggut adalah dalam rangka pemujaan kepada leluhur, menghasilkan pemasukan bagi kerajaan berupa pajak (paṅaṣṭaṅgi) sebesar 5 māsa setiap bulan ketiga, serta sumbangan dari setiap kelompok pekerjaan berupa biji-bijian, wewangian, dan makanan untuk persembahan setiap bulan ketiga (Nastiti, Bastiawan, & Griffiths, 2022). Menariknya, di dalam Prasasti Munggut juga disebutkan adanya orang-orang asing dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Mereka disebut dengan istilah wargga kilalan secara harfiah berarti orang-orang yang dikenai pajak. Disebut demikian karena memang mereka bukan berasal dari penduduk setempat, melainkan datang dari India Selatan (kliŋ), India Utara (ārya), Srilanka, Gauda, Cola, Kerala, Karṇāṭaka, Campa, dan Mon. Hal ini mengindikasikan taraf ekonomi kerajaan ketika dipimpin Airlangga telah memasuki perdagangan global. Komoditas utama Jawa adalah beras dan beberapa rempah terutama lada dan kemukus (Basundoro & Nugroho, 2024).

*Ismail Lutfi & Andri Setyo Nugroho (PAEI Komda Jawa Timur ) 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top