Prasasti Masa Hindu-Buddha di Nusantara sebagai Sumber Belajar Sejarah Peserta Didik Jenjang SMK/MAK pada Pembelajaran Sejarah Kurikulum Merdeka

Naufal Raffi Arrazaq
Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo

Artikel ini bertujuan untuk menyampaikan informari tentang pemanfaatan prasasti masa Hindu-Buddha di Nusantara sebagai sumber belajar sejarah bagi peserta didik jenjang SMK/MAK dalam pembelajaran sejarah Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan prasasti sebagai sumber belajar sejarah di SMK/MAK berpotensi meningkatkan minat dan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Prasasti tidak hanya membantu siswa dalam memahami fakta sejarah, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir kritis dan analitis dalam menginterpretasi bukti sejarah. Guru sejarah memainkan peran penting dalam memfasilitasi pemahaman siswa terhadap prasasti, terutama dalam menerjemahkan dan mengkontekstualisasikan isi prasasti pada pembelajaran sejarah yang relevan dengan Kurikulum Merdeka.Kata kunci: Prasasti, sumber belajar, pembelajaran sejarah, Kurikulum Merdeka.

Penggunaan prasasti sebagai sumber belajar sejarah dalam Kurikulum Merdeka di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atu Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) menjadi relevan mengingat pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam memahami masa lalu. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (2024) menyatakan bahwa transformasi pengetahuan atas sejarah masa lalu sangat penting untuk dikontekstualisasikan dalam kehidupan kekinian dan sebagai bahan proyeksi ke masa depan dalam memperkuat jati diri bangsa Indonesia dalam dimensi lokal, nasional, dan global.

Penggunaan prasasti dalam pembelajaran sejarah di SMK/MAK juga sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dalam mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber (Rahmawati, 2023). Keberadaan prasasti di berbagai wilayah Nusantara juga membuka peluang bagi peserta didik untuk belajar tentang sejarah lokal mereka sendiri. Banyak prasasti yang ditemukan di daerah-daerah yang mungkin dekat dengan tempat tinggal para siswa, sehingga dapat menumbuhkan rasa kebanggaan dan kesadaran akan warisan budaya lokal. Menurut Barus & Suratno (2016) pembelajaran sejarah yang berbasis pada sumber-sumber lokal, seperti prasasti, juga dapat memperkuat pemahaman peserta didik tentang pentingnya melestarikan warisan budaya dan sejarah di lingkungan mereka.

Sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka, penggunaan prasasti dalam pembelajaran sejarah juga mendorong pengembangan proyek-proyek pembelajaran yang bersifat kolaboratif dan interdisipliner (Disvia, 2024). Dengan pendekatan yang tepat, prasasti dari masa Hindu-Buddha menurut Fatmawati (2023) dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, membantu siswa memahami bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan peristiwa, tetapi merupakan proses yang terus berlanjut dan relevan dengan kehidupan mereka saat ini. Melalui pemahaman yang mendalam tentang sejarah, diharapkan siswa dapat mengembangkan sikap kritis dan menghargai keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan prasasti masa Hindu-Buddha di Nusantara sebagai sumber belajar sejarah bagi peserta didik jenjang SMK/MAK dalam pembelajaran sejarah Kurikulum Merdeka.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana prasasti masa Hindu-Buddha di Nusantara dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah bagi peserta didik jenjang SMK/MAK dalam konteks pembelajaran sejarah Kurikulum Merdeka. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai fenomena pembelajaran berbasis prasasti sebagai sumber sejarah, serta mengidentifikasi peluang dan tantangan dalam penerapannya di kelas. Data penelitian ini menggunakan pustaka terkait hasil kajian prasasti masa Hindu-Buddha, dokumen kurikulum, dan referensi terkait konsep pembelajaran.

Langkah Inovatif dalam Mengintegrasikan Bukti Sejarah Primer dalam Proses Pembelajaran

Pemanfaatan prasasti masa Hindu-Buddha sebagai sumber belajar sejarah di jenjang SMK/MAK dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka merupakan langkah inovatif dalam mengintegrasikan bukti sejarah primer ke dalam proses pembelajaran. Prasasti, sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang memuat berbagai informasi penting tentang kehidupan sosial, politik, dan budaya masa lampau, memberikan siswa kesempatan untuk terhubung langsung dengan warisan masa lalu. Menurut Bangsawan (2024) penggunaan prasasti memungkinkan siswa untuk mempelajari sejarah secara lebih mendalam dan kritis, karena mereka diajak untuk menginterpretasi teks-teks kuno yang otentik.

Dalam konteks pembelajaran sejarah, prasasti masa Hindu-Buddha menyimpan berbagai informasi penting yang dapat dimanfaatkan sebagai materi ajar. Kajian yang dilakukan Arrazaq & Tanudirjo (2021) menunjukkan bahwa isi Prasasti Sumuṇḍul (lihat gambar 1) memberikan wawasan kepada peserta didik mengenai beberapa aspek penting terkait Kerajaan Mataram Kuno, yaitu (1) struktur pemerintahan, (2) para pejabat yang berperan dalam pemerintahan, (3) sistem kalender yang digunakan, (4) pembangunan infrastruktur irigasi, (5) alat yang digunakan dalam pertukaran, serta (6) upaya pelestarian peninggalan sejarah.
Arrazaq & Rochmat (2020) menjelaskan bahwa prasasti juga memiliki keunggulan dalam memberikan gambaran nyata mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa Hindu-Buddha. Melalui prasasti, peserta didik dapat mempelajari berbagai aspek kehidupan sosial, seperti sistem ekonomi, struktur sosial, agama, dan budaya. Hal ini memberikan perspektif yang lebih komprehensif kepada peserta didik tentang bagaimana masyarakat pada masa itu hidup dan berkembang. Dengan demikian, prasasti tidak hanya menjadi alat untuk mempelajari fakta sejarah, tetapi juga sebagai media untuk memahami nilai-nilai budaya yang telah membentuk peradaban Nusantara.

Di sisi lain, prasasti juga dapat memperkaya pembelajaran sejarah dengan menyediakan perspektif yang berbeda. Prasasti umumnya ditulis oleh pihak berwenang, seperti raja atau pejabat tinggi kerajaan, yang memberikan gambaran dari sudut pandang penguasa. Namun, jika digabungkan dengan sumber-sumber sejarah lain, peserta didik dapat membangun pemahaman yang lebih lengkap dan seimbang mengenai sejarah, termasuk dinamika sosial masyarakat pada masa itu. Menurut Fimansyah (2024) pembelajaran sejarah dengan pendekatan inkuiri dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, karena mereka diajak untuk menafsirkan sumber sejarah secara analitis.

Selain itu, pengajaran sejarah berbasis prasasti dapat meningkatkan keterampilan literasi sejarah peserta didik. Menurut Shavab (2020) literasi digital penting dimiliki oleh peserta didik dalam pembelajaran sejarah. Literasi sejarah tidak hanya sebatas mengetahui fakta-fakta sejarah, tetapi juga mencakup kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan mengkontekstualisasikan sumber-sumber sejarah. Dalam hal ini, prasasti memberikan tantangan tersendiri karena isinya sering kali bersifat simbolik dan membutuhkan penafsiran yang mendalam. 

Prasasti dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar pendidikan karakter dan kearifan lokal. Sebagai contoh Prasasti Kawali I memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah (Yuniar, dkk., 2022). Selain pendidikan karakter, pembelajaran sejarah berbasis prasasti juga dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap budaya lokal. Dengan mempelajari warisan budaya mereka sendiri, peserta didik dapat merasa lebih dekat dengan sejarah dan identitas nasional mereka. 

Sebagai media pembelajaran, prasasti memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut dalam konteks pembelajaran sejarah (Arrazaq, 2023). Dengan pendekatan yang tepat, prasasti dapat menjadi alat yang efektif untuk membangun pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah Nusantara. Ini juga sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang mendorong penggunaan sumber belajar yang kaya dan beragam, serta memberikan kebebasan kepada guru untuk mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan konteks lokal.

Kesimpulan

Prasasti masa Hindu-Buddha di Nusantara berpotensi digunakan sebagai sumber belajar sejarah bagi peserta didik jenjang SMK/MAK dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka. Prasasti, sebagai salah satu sumber sejarah primer, memberikan gambaran nyata tentang kehidupan masa lampau yang dapat digunakan untuk memperkaya pembelajaran sejarah. Penggunaan prasasti dalam pembelajaran sejarah sejalan dengan pendekatan Kurikulum Merdeka yang menekankan kemandirian, kreativitas, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam proses belajar. Melalui pendekatan ini, prasasti dapat digunakan sebagai sarana untuk membangun keterampilan literasi sejarah, keterampilan analitis, dan pendidikan karakter peserta didik.

Daftar Pustaka

  • Arrazaq, N. R. (2023). Kajian Peninggalan Arkeologi di Desa Pringapus, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten, Temanggung, Provinsi Jawa Tengah sebagai Sumber Belajar Sejarah. Istoria: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah19(1), 1-9. 
  • Arrazaq, N. R., & Rochmat, S. (2020). Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kerajaan Mataram Kuno abad IX-X M: Kajian berdasarkan prasasti dan relief. Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya.21(2), 211-228.
  • Arrazaq, N. R., & Tanudirjo, D. A. (2021). Potensi Prasasti Sumuṇḍul sebagai Sumber Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Istoria: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah17(2), 1-10. 
  • Barus, U., & Suratno, S. P. (2016). Pemanfaatan Candi Bahal sebagai Media Pembelajaran Alam Terbuka dalam Proses Belajar Mengajar. Perdana Mitra Handalan.
  • Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. (2024). Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Nomor 032/H/KR/2024 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.
  • Bangsawan, M. I. P. R. (2024). Minat Baca di Era Digital. Pustaka Adhikara Mediatama.
  • Disvia, F. M. (2024). Implementasi Profil Pelajar Pancasila Pada Pembentukan Karakter Siswa melalui Pembelajaran Sejarah Kelas X Sma Negeri 11 Muaro Jambi (Doctoral dissertation, Universitas Jambi).
  • Fatmawati, I. (2023). Pengembangan E-Modul Berbasis Sejarah Lokal Pada Materi Sejarah Indonesia di Kelas XI MAN 1 Kota Kediri: Pembelajaran Sejarah. Revorma: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran3(1), 69-82.
  • Firmansyah, H. (2024). Analisis Penerapan Pendekatan Pembelajaran Inkuiri dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis pada Mata Pelajaran Sejarah. Innovative: Journal Of Social Science Research4(3), 7832-7842.
  • Rahmawati, M. (2023). Nilai–Nilai Budi Pekerti Perspektif Ki Hadjar Dewantara dan Relevansinya Terhadap Kurikulum Merdeka. (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).
  • Shavab, O. A. K. (2020). Literasi digital melalui pemanfaatan media pembelajaran edmodo pada pembelajaran sejarah. Sejarah dan Budaya: jurnal sejarah, budaya, dan pengajarannya14(2), 142.
  • Yuniar, E., Pajriah, S., & Suryana, A. (2022). Pembelajaran Sejarah Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Pakena Gawe Rahayu Pakeun Heubeul Jaya Dina Buana Pada Prasasti Kawali I Di Kelas X IPS 1 SMAN 1 Kawali. J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan)3(2), 483-493.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top